Saumlaki,kpktipikor.id -Kegelapan pukul tiga subuh di Desa Lauran mendadak pecah oleh hantaman kenyataan yang teramat pahit. Seorang anak laki-laki dipaksa menyaksikan pemandangan yang paling merusak jiwanya: ibunya sendiri, seorang istri sah, diduga tengah menanggalkan kehormatan bersama seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) berinisial CM, Sabtu (6/6/2026)
Skandal moral yang melibatkan oknum abdi negara di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar ini bukan sekadar pelanggaran disiplin kerja. ini adalah tragedi kemanusiaan yang menghancurkan psikologis sebuah keluarga.
Pengkhianatan di Balik Lampu yang Padam
Dua wilayah yang terpisah jarak menjadi panggung awal mula petaka ini. Sang suami sah berjuang mencari nafkah di Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT). Di saat jarak membentang, sang istri justru diduga memanfaatkan ruang hampa tersebut untuk merajut hubungan terlarang dengan CM.
Namun, sepandai-pandainya bangkai ditutupi, baunya menyengat juga. Perubahan gelagat sang ibu menyalakan api kecurigaan di hati anak-anaknya.
Rasa penasaran yang bercampur cemas menuntun Sardi (20), sang anak laki-laki, membuntuti ibunya menembus dinginnya malam menuju rumah pribadi oknum ASN tersebut. Pukul 03.00 WIT, rumah itu tampak mati, gelap gulita tanpa cahaya.
Saat pintu diketuk, keheningan mencekam menjadi jawaban. Hingga akhirnya, kebenaran yang mengerikan itu tersingkap saat jendela kamar terbuka dan sang ibu keluar dari sana menuju ruangan.
“Saya tidak senang dan tidak terima. Bapak saya masih ada, tapi Mama jalin hubungan dengan pria lain,” lirih Sardi dengan nada terluka saat ditemui media.
Rekaman yang Menjadi Trauma dan Intimidasi
Malam itu memuncak menjadi histeria. Sardi yang telanjur melihat pemandangan nekat di dalam kamar segera merekam peristiwa tersebut sebagai bukti nyata pengkhianatan.
Karena situasi memanas, ia memanggil saudara perempuannya. Kehadiran mereka di lokasi sontak memicu perhatian warga Desa Lauran yang langsung berdatangan memadati tempat kejadian.
Namun, penderitaan anak-anak ini belum usai. seperti mendapati dunia mereka runtuh, anak laki-laki tersebut kabarnya justru harus menerima intimidasi dan tekanan psikologis dari pria selingkuhan ibunya karena telah merekam aksi tercela itu.
Kini, sang anak berada dalam pusaran trauma yang mendalam. Mereka dipaksa menanggung beban sosial dan luka psikologis yang belum tentu bisa sembuh dalam hitungan tahun, sembari menunggu kepulangan sang ayah yang masih berada di perantauan.
Menanti Taji Ketegasan Bupati: Institusi atau Sekadar Oknum?
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi wajah birokrasi Kabupaten Kepulauan Tanimbar. ASN yang seharusnya menjadi cerminan moral, integritas, dan teladan di tengah masyarakat, justru bertindak sebagai perusak rumah tangga orang lain.
Masyarakat kini mendesak Bupati selaku Pejabat Pembina Kepegawaian untuk mengambil tindakan paling tegas. Publik menuntut agar oknum PNS yang bermental bobrok ini dipecat secara tidak hormat jika terbukti melanggar kode etik dan disiplin berat ASN.
Sanksi tegas bukan lagi sekadar formalitas aturan, melainkan sebuah keharusan untuk memulihkan nama baik institusi yang tercoreng, sekaligus memberikan keadilan moril bagi keluarga yang hancur.
Kasus ini membuktikan bahwa ketika moralitas seorang aparatur negara runtuh, yang menjadi korban pertama dan paling terluka adalah masa depan anak-anak mereka sendiri.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak terduga pelaku perselingkuhan yang menjadi sasaran penggerebekan tersebut belum memberikan keterangan atau klarifikasi resmi terkait peristiwa yang disaksikan sejumlah warga dan anggota keluarga di lokasi kejadian.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan hak klarifikasi kepada pihak yang bersangkutan guna memenuhi prinsip pemberitaan.
(Tim)
Tidak ada komentar