JAKARTA, KPKtipikor.id – Ketua Umum FORSIMEWA-RI (Forum Silaturahmi Media Mahkamah Agung RI), Syamsul Bahri, mendesak Pemerintahan Prabowo-Gibran untuk segera menambah jumlah armada kapal milik PT Pelni. Dorongan ini menyusul maraknya praktik kelebihan muatan atau overcapacity yang dinilai tidak hanya mengganggu kenyamanan, melainkan secara langsung mengancam keselamatan nyawa penumpang di laut. Pernyataan ini disampaikan pada Sabtu (18/7/2026).
Menurut Syamsul Bahri, penambahan armada laut PT Pelni di era pemerintahan saat ini merupakan kebutuhan yang sudah mendesak dan strategis, guna menjamin keselamatan, kenyamanan, serta menjaga konektivitas antar-pulau di seluruh wilayah Indonesia.
Kelebihan Muatan: Taruhan Nyawa di Laut
Forsimewa-RI menegaskan bahwa masalah kelebihan muatan bukan sekadar soal kepadatan penumpang, melainkan menyangkut aspek keselamatan yang tidak boleh ditawar. Membiarkan kapal beroperasi melebihi kapasitas yang ditetapkan —terutama pada musim puncak seperti mudik dan libur nasional— sangat membahayakan kestabilan kapal, apalagi di tengah kondisi cuaca yang sering berubah-ubah.
“Keselamatan pelayaran adalah harga mati. Indonesia sebagai negara maritim besar harus menunjukkan komitmen penuh dalam mematuhi standar keselamatan pelayaran internasional,” tegas Syamsul Bahri.
Penunjang Konektivitas dan Pemerataan Logistik
Selain aspek keselamatan, penambahan armada juga diperlukan untuk memperkuat pemerataan distribusi logistik dan konektivitas Nusantara. Kapal Pelni bukan sekadar sarana angkut penumpang, melainkan urat nadi Tol Laut yang menyuplai kebutuhan wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Armada baru yang lebih modern akan mempercepat mobilitas barang, menekan selisih harga antar-daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah terpencil.

Peremajaan Armada yang Sudah Menua
Faktor usia kapal juga menjadi perhatian utama. Banyak kapal yang kini beroperasi tergolong armada lama dan membebani biaya perawatan yang terus membengkak. Pengadaan kapal baru justru menjadi investasi jangka panjang yang lebih efisien, sekaligus mampu meningkatkan ketepatan waktu keberangkatan dan kedatangan.
Harapan Terwujudnya Visi Maritim yang Nyata
Suara kritis dari FORSIMEWA-RI diharapkan menjadi kontrol sosial sekaligus mitra strategis pemerintah, agar visi kemaritiman Indonesia tidak hanya tertulis di atas kertas, tetapi terwujud dalam pelayanan publik yang nyata. Dorongan ini diharapkan segera ditindaklanjuti melalui koordinasi Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, dan PT Pelni guna merealisasikan pengadaan armada baru demi pelayaran yang aman, tertib, dan manusiawi.
(Reporter: Dedy)
Tidak ada komentar