Sumbar, 3 Juni 2026 kpktipikor.id – Menarik ketika kepala BGN ingin go international program MBG. Secara umum, mayoritas siswa di Sekolah Indonesia di Arab Saudi (SIAS) tidak berada dalam kondisi kelaparan akut atau gizi buruk (malnutrisi berat). Namun, sebagai anak-anak dari keluarga Pekerja Migran Indonesia (PMI) dengan kondisi ekonomi yang bervariasi, sebagian dari mereka memang rentan mengalami masalah pemenuhan gizi yang optimal (malnutrisi ringan hingga sedang, serta gizi salah/malnutrisi ganda). Kondisi yang sama juga terjadi pada warga negara Indonesia yang ada di beebagai negara di dunia.
Di Indonesia saja, menurut survei dari Survei Diet Total (SDT) Kemenkes tahun 2020 menemukan fakta sekunder yang mencengangkan: 47,7% anak sekolah tidak memenuhi kebutuhan energi minimal saat sarapan, bahkan 66,8% anak sarapan dengan kualitas gizi yang rendah (hanya makan nasi/mi instan tanpa protein dan serat yang cukup). Survei nasional tersebut melibatkan sekitar 25.000 anak usia sekolah (6-12 tahun) di seluruh provinsi Indonesia untuk memetakan kualitas asupan makanan harian mereka secara riil.
Data terkini dari kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan program MBG telah berhasil menjangkau sekitar 49.057.682 siswa sekolah (dari total 61,2 juta penerima manfaat keseluruhan, yang juga mencakup balita, ibu hamil, dan ibu menyusui) dari 82,9 juta penerima manfaat (termasuk seluruh anak sekolah dari PAUD hingga SMA/sederajat) yang ditargetkan rampung secara bertahap. Masih banyak upaya yang harus dilakukan di dalam negeri, terutama menjangkau target penerima manfaat yang ada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
Berbagai persoalan juga masih membelit program MBG, meskipun program ini menjadi salah satu yang terbesar di dunia (peringkat kedua setelah India), melampaui skala program serupa di Brasil, Tiongkok, dan Amerika Serikat. Apalagi Indonesia adalah negara kepulauan yang justru lebih sulit dari negara-negara tersebut. Memperluas program hingga ke luar negeri adalah salah satu niat baik yang dapat diacungkan jempol, namun tentu skala prioritas juga perlu dipertimbangkan, sehingga program MBG tidak hanya menjadi wacana perbaikan gizi yang asal bagi makanan saja tanpa makna yang jelas terkait status gizi yang lebih baik.
(M)
Tidak ada komentar