OGAN KOMERING ILIR, kpktipikor.id — Masyarakat Desa Bumi Pratama Mandira, Kecamatan Sungai Menang, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, menggelar istighosah dan doa bersama pada 30 September 2026. Kegiatan ini menjadi ikhtiar bersama untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan bagi para pembudidaya udang, sekaligus menyuarakan penolakan terhadap impor udang yang dinilai berpotensi merugikan petambak lokal.
Istighosah tersebut diprakarsai oleh sejumlah tokoh masyarakat, tokoh agama, serta Hairu Badarudin selaku Ketua Lembaga P2UWM (Perkumpulan Petambak Udang Wachyuni Mandira).
Melalui doa bersama ini, masyarakat berharap agar usaha pertambakan udang di kawasan Wachyuni Mandira senantiasa diberikan kelancaran, hasil yang baik, serta kesejahteraan bagi para petambak dan keluarga yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.
Selain sebagai bentuk ikhtiar spiritual, kegiatan ini juga menjadi sarana menyampaikan aspirasi para pembudidaya udang yang menginginkan kebijakan impor lebih berpihak pada keberlangsungan usaha tambak dalam negeri.
Ribuan Petak Tambak Menjadi Penopang Ekonomi Masyarakat
Desa Bumi Pratama Mandira memiliki ribuan petak tambak produktif yang tersebar di Blok 2, Blok 3, dan Blok 4. Berdasarkan data yang disampaikan, jumlah petak tambak tersebut terdiri atas:
– Blok 2: 912 petak.
– Blok 3: 2.496 petak.
– Blok 4: 2.653 petak.
Dengan demikian, total terdapat 6.061 petak tambak di ketiga blok tersebut.
Dari kawasan pertambakan itu, hasil panen disebut dapat mencapai sekitar 30 hingga 50 ton per hari. Angka tersebut menggambarkan besarnya potensi produksi udang sekaligus peran sektor pertambakan dalam menopang perekonomian masyarakat setempat.
Namun, capaian produksi tersebut tidak diperoleh dengan mudah. Para petambak harus melalui berbagai tahapan, mulai dari persiapan dan pengolahan air, penebaran benur, pemeliharaan, pengendalian kualitas air, hingga proses panen.
Seluruh tahapan itu membutuhkan tenaga, waktu, biaya operasional, dan ketekunan. Bahkan, tingginya hasil panen tidak selalu menjamin petambak memperoleh keuntungan karena masih dipengaruhi biaya produksi dan harga jual udang di pasaran.
Petambak Khawatir Impor Menekan Harga Udang Lokal
Dalam aspirasi yang disampaikan melalui kegiatan istighosah tersebut, para petambak menyatakan keberatan terhadap masuknya udang impor yang dikhawatirkan dapat menekan harga jual udang hasil budidaya dalam negeri.
Mereka berharap pemerintah memberikan perhatian serius terhadap kondisi pembudidaya lokal, khususnya di kawasan pertambakan Wachyuni Mandira yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Desa Bumi Pratama Mandira.
Bagi para petambak, keberlangsungan usaha bukan hanya menyangkut keuntungan pelaku usaha, tetapi juga menyangkut kehidupan keluarga, tenaga kerja, dan roda perekonomian masyarakat di sekitar kawasan tambak.
Oleh karena itu, mereka berharap kebijakan perdagangan udang nasional dapat mempertimbangkan kepentingan petambak dalam negeri, menjaga stabilitas harga, serta mengutamakan penyerapan hasil produksi lokal.
Harapan untuk Pemerintah
Penyelenggara menyampaikan terima kasih kepada seluruh tokoh agama, tokoh masyarakat, serta elemen masyarakat yang telah hadir dan berkontribusi dalam menggagas terselenggaranya istighosah dan doa bersama tersebut.
Mereka berharap doa yang dipanjatkan menjadi ikhtiar untuk mengetuk pintu langit, sekaligus menguatkan perjuangan para petambak dalam menyampaikan aspirasi secara damai dan konstruktif.
Masyarakat juga berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan impor udang dengan mempertimbangkan kondisi produksi dalam negeri, kebutuhan pasar, serta dampaknya terhadap harga dan kesejahteraan pembudidaya lokal.
Bagi masyarakat Bumi Pratama Mandira, tambak bukan sekadar tempat mencari nafkah, melainkan sumber penghidupan yang menggerakkan perekonomian desa.
Pesan yang disuarakan dalam kegiatan tersebut menjadi penegasan harapan para petambak:
“Hidupkan tambak lokal, hentikan impor yang menyakiti petambak.”
Tim Rilis: Kabiro Tulang Bawang
Tidak ada komentar