Merajut Ukhuwah di Bumi Suroyo: Consolidation dan Anjangsana Kader Nahdlatul Ulama melalui Poskanu 

waktu baca 2 menit
Sabtu, 3 Okt 2026 20:10 17 Korlip Nasional

KPK TIPIKOR INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI

 

Banyuwangi, (03/10/2026) – Di tengah dinamika sosial dan kelembagaan yang terus berkembang, Bumi Suroyo, Banyuwangi, menjadi saksi bisu hadirnya momen hangat penuh makna bagi para kader Nahdlatul Ulama (NU).

 

Bertempat dalam wadah Poskanu (Posko Komando Nahdliyin / Posko Nahdlatul Ulama), Acara anjangsana sekaligus konsolidasi ini digelar sebagai ajang silaturahmi, penguatan barisan, dan penataan arah gerak organisasi.

 

Suasana keakraban terasa kuat ketika para anggota Poskanu berkumpul bersama tokoh pencerah, Ki Ageng Bumi Seroyo, serta para pimpinan dan elemen kader NU setempat.

 

Pertemuan ini tidak sekadar menjadi ajang nostalgia atau sapaan hangat antar-kader, melainkan wahana untuk menyelaraskan gagasan dan memperkokoh rasa persaudaraan (ukhuwah nahdliyah).

 

Menjaga Kondusivitas dan Etika Kelembagaan

 

Kendati pertemuan ini diwarnai pembahasan strategis mengenai langkah-langkah organisasi ke depan, kondusivitas dan ketenangan internal tetap menjadi prioritas utama.

 

Dialog yang Harmonis: Setiap gagasan, pandangan, maupun masukan disampaikan melalui ruang dialog yang santun dan konstruktif.

 

Kehadiran Ki Ageng Bumi Seroyo dan tokoh-tokoh senior memberikan kesejukan serta kedalaman perspektif, sehingga perdebatan dinamis tetap berjalan dalam koridor kebersamaan.

 

Kepatuhan pada Koridor Etika: Seluruh anggota Poskanu sepakat bahwa penataan dan konsolidasi organisasi wajib berpegang teguh pada etika kelembagaan NU. Tradisi penghormatan kepada para kiai, kepatuhan pada aturan tata kelola jam’iyah, serta prinsip tawasuth (moderasi) dan tasamuh (toleransi) tetap dijunjung tinggi.

 

Makna Penting Pertemuan di Bumi Suroyo

 

Penguatan Jejaring Kader: Anjangsana ini menjadi jembatan emosional untuk mempererat tali silaturahmi antar-kader lintas wilayah di Banyuwangi.

 

Penyelarasan Visi:

 

Mengoordinasikan langkah-langkah riil Poskono agar sejalan dengan garis perjuangan NU dalam membina umat dan menjaga benteng keagamaan.

 

Komitmen Kedamaian: Menjadikan Poskono sebagai simpul peneduh yang mampu meredam potensi konflik serta membawa dampak positif bagi masyarakat luas.

 

Pertemuan di Bumi Suroyo ini menegaskan bahwa kekuatan utama kader NU tidak hanya terletak pada struktur organisasi, tetapi juga pada kehangatan tradisi anjangsana dan kesetiaan menjaga etika kelembagaan demi kejayaan jam’iyah dan kemaslahatan umat. Sumber berita: (Red Dwipan)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA