MOJOKERTO – Gelombang kemarahan kader Partai Nasional Demokrat (NasDem) terus meluas di berbagai daerah. Mereka serentak menyatakan sikap dan menuntut Majalah Tempo segera meminta maaf secara resmi terkait pemberitaan yang dinilai melecehkan, menyudutkan, dan merendahkan martabat Ketua Umum Partai, Surya Paloh.
Protes ini dipicu oleh laporan utama dan sampul majalah edisi terbaru yang membahas wacana hubungan politik, serta penggunaan ilustrasi visual yang dianggap sangat menyinggung dan melanggar etika jurnalistik.
Tuntutan Utama Massa
Dalam berbagai aksi yang digelar didepan Kantor DPD Partai Nasdem Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, hingga daerah lainnya, kader menyampaikan poin-poin tuntutan yang serupa, antara lain:
1. Meminta maaf secara resmi, terbuka, dan tertulis kepada Bapak Surya Paloh secara pribadi maupun kepada seluruh kader dan simpatisan Partai NasDem di Indonesia.
2. Memuat hak jawab dan koreksi secara proporsional sesuai dengan standar jurnalistik yang benar.
3. Menjamin tidak akan mengulangi praktik pemberitaan yang bersifat insinuatif, tidak berimbang, dan membunuh karakter pimpinan maupun institusi partai.
4. Mendesak Dewan Pers untuk turun tangan menindaklanjuti dan menegakkan Kode Etik Jurnalistik serta Undang-Undang Pers.
Reaksi Kader dan Pengurus
“Kami menghormati kebebasan pers, tapi tidak boleh kebablasan. Apa yang dimuat itu bukan sekadar berita, tapi upaya sistematis untuk merendahkan martabat Ketua Umum kami dan partai,” ujar salah satu perwakilan kader di Jawa Barat.
Sementara itu di Mojokerto, Lestari selaku Ketua Aliansi yang juga Ketua DPC Trawas menegaskan bahwa pimpinan partai adalah simbol perjuangan. “Apa yang menyakiti beliau, itulah yang kami rasakan. Kami tidak ingin ada pembunuhan karakter, yang kami inginkan adalah profesionalisme,” tegasnya.
Di berbagai titik, kader juga menolak keras penggunaan istilah atau narasi yang menempatkan partai seolah-olah hanya sebagai entitas komersial, bukan organisasi perjuangan politik yang berideologi.
Sementara itu, Sekretaris DPD Nasdem Kabupaten Mojokerto, Muhammad Dhofir, membenarkan bahwa aspirasi ini merupakan suara hati para kader yang menanggapi tulisan yang terbit tiga hari lalu.
Menurutnya, Surya Paloh bukan sekadar nama, melainkan simbol dari Partai Nasdem. Sehingga, apa yang menyudutkan beliau secara otomatis melukai perasaan seluruh kader.
“Visualisasi dan tulisan-tulisan itu dianggap tidak proporsional dan menyakitkan. Beliau adalah simbol partai, maka apa yang menimpa beliau, itulah yang kami rasakan,” jelas Dhofir.
Rencana Tindak Lanjut
Dijelaskan lebih lanjut, aspirasi dan kemarahan kader di tingkat kabupaten ini tidak akan berhenti di sini. Pihaknya akan segera menindaklanjuti dengan berkoordinasi ke tingkat DPW (Daerah) untuk kemudian diteruskan ke DPP (Pusat).
“Nanti akan disampaikan agar bisa dibawa ke Dewan Pers, agar ada penyelesaian yang adil dan sesuai dengan prinsip jurnalistik yang benar,” pungkasnya.
Aksi berjalan tertib dan damai dengan membawa berbagai spanduk serta poster yang menolak pemberitaan yang dinilai tidak objektif tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, aksi solidaritas dan pernyataan sikap masih terus bergulir di berbagai wilayah di Indonesia. (har)
Tidak ada komentar