Strategi Komprehensif Polri Tekan Karhutla Gambut di Kalteng: Padukan Modernisasi Alutista dan Tata Kelola Air

waktu baca 4 menit
Sabtu, 12 Sep 2026 12:06 8 Korlip Nasional

KPK TIPIKOR INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI

 

PALANGKA RAYA — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mengintensifkan langkah penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian kompleks di wilayah Kalimantan Tengah. Pendekatan kini difokuskan pada penguatan sinergitas personel, pemanfaatan teknologi modern, penyediaan armada khusus, perlengkapan proteksi diri, serta rekayasa tata air di kawasan lahan gambut.

 

Kesiapsiagaan tersebut dipantau langsung oleh Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo saat meninjau Posko Induk Penanganan Karhutla Polda Kalteng di Palangka Raya pada Jumat (11/9/2026). Dalam kunjungan kerja tersebut, Wakapolri mengecek secara detail kesiapan anggota di lapangan sekaligus kesiapan berbagai alat pemadam dan inovasi teknologi untuk menjangkau lokasi-lokasi terisolasi.

 

Guna menembus medan ekstrem, Polri menyiagakan armada darat yang mencakup 12 unit kendaraan double cabin bertangki, kendaraan Armoured Water Cannon (AWC), unit taktis pemadam kebakaran, satu unit kendaraan Komodo, 14 unit sepeda motor modifikasi, serta satu unit All-Terrain Vehicle (ATV). Pengawasan jalur udara turut diperkuat dengan pengoperasian drone thermal untuk mendeteksi titik panas (hotspot) yang tertutup asap pekat.

 

Sektor pasokan air dan armada pemadam diperkuat dengan puluhan unit pompa Alkon berbagai ukuran (3 inci, 2 inci, dan portable 1,5 inci) beserta ratusan gulung selang spiral maupun kanvas. Peralatan pendukung seperti nozzle connector, hose adapter, tool box kit, fire beater (gepyok), hingga tangki air lipat (folding water tank) juga disiapkan secara optimal.

 

Guna menjamin keselamatan petugas di zona titik api, Polri menyiagakan perlengkapan pelindung khusus. Perlengkapan tersebut meliputi puluhan stel pakaian, sepatu, dan sarung tangan anti-panas, ratusan pasang sepatu boots, ratusan tabung oksigen pelbagai ukuran, perlengkapan masker asap, hingga alat penerangan berupa senter jarak jauh dan headlamp.

 

Dukungan operasional lapangan juga dilengkapi dengan penyediaan 4.000 liter cairan pemadam X-Fire bantuan Slog Polri, unit generator daya 5.000 watt, puluhan ransel operasional (backpack), serta dua unit mesin Wontech.

 

Restorasi Ekosistem Gambut Jadi Kunci

 

Selain pemadaman darat, Polri menaruh perhatian khusus pada tata kelola air di lahan gambut. Idealnya, tinggi muka air gambut terjaga di kedalaman 40 sentimeter. Namun, penurunan muka air tanah di sejumlah area Kalteng dilaporkan telah menyentuh angka 120 sentimeter, yang memicu kerentanan tinggi terhadap kebakaran.

 

Sebagai langkah mitigasi, dilakukan pembuatan sekat kanal (canal blocking), pembasahan kembali (rewetting), pembuatan sumur bor, pembuat embung, serta pembukaan akses jalan ke titik rawan. Saat ini, sebanyak 220 sumur bor dan 104 embung air telah disiagakan sebagai sarana penyuplai air darurat.

 

Langkah ini mendesak dilakukan mengingat eskalasi karhutla di Kalteng yang tergolong tinggi. Catatan terkini menunjukkan adanya 107.309 hotspot, 2.819 firespot, dan luasan area terbakar mencapai 9.228,04 hektare, dengan sebaran terparah berada di Kabupaten Kotawaringin Timur.

 

Dampak kebakaran ini juga memicu krisis kualitas udara. Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) di Kota Palangka Raya sempat menembus angka 3.242 yang masuk dalam kategori “Sangat Berbahaya”, sehingga penanganan cepat dan terintegrasi menjadi prioritas utama demi melindungi masyarakat serta petugas.

 

Perubahan Paradigma dan Edukasi Lapangan

 

Menghadapi fenomena kemarau ekstrem akibat El Nino kuat pada periode Agustus–September 2026, Polri menggeser pola penanganan dari merespon kejadian (reactive) menjadi pendekatan preventif holistik. Strategi ini mencakup deteksi dini, pencegahan, pemadaman cepat, mitigasi ekosistem gambut, pemanfaatan teknologi, edukasi publik, kolaborasi lintas sektor, hingga penegakan hukum yang tegas.

 

Penguatan strategi di lapangan turut didukung pelibatan sumber daya manusia secara terstruktur. Di Kalimantan Tengah, terdapat 59 Peserta Didik (Serdik) dari jenjang Sespimti, Sespimmen, dan SPPK yang diterjunkan untuk memberikan pendampingan, penyuluhan, serta analisis situasi lapangan.

 

Secara nasional, sebanyak 322 personel gabungan dari Sespimti, Sespimmen, SPPK, beserta pendamping ditugaskan menyebarkan edukasi pencegahan karhutla di wilayah hukum enam Polda. Di samping itu, disiagakan pula kelompok penugasan terpisah sebanyak 198 personel peserta didik untuk memperkuat ketahanan operasional.

 

Pendekatan terpadu ini menyinergikan peran Polri, TNI, pemerintah daerah, Manggala Agni, serta kelompok masyarakat peduli api guna memastikan penanganan kebakaran hutan dapat dilakukan sedini mungkin.

 

“Usaha maksimal wajib dilaksanakan. Karena ini merupakan tanggung jawab bersama,” ujar Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo. Sumber berita: (Red Jaskurnia)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA