Mencegah Karhutla Lewat Pendekatan Humanis: Polri Kerahkan 322 Personel Gabungan ke Empat Provinsi

waktu baca 2 menit
Selasa, 8 Sep 2026 15:38 8 Korlip Nasional

KPK SIGAP INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI

 

JAKARTA — Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) kembali menerjunkan ratusan personel untuk menekan risiko Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di sejumlah titik rawan. Sebanyak 322 personel Satgas Edukasi, Penyuluhan, dan Pencegahan Karhutla gelombang kedua resmi dilepas menuju empat provinsi sasaran, yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

 

Langkah ini menegaskan pergeseran strategi kepolisian yang kini memprioritaskan pendekatan edukatif dan kolaboratif bersama warga setempat ketimbang sekadar mengandalkan tindakan hukum pascakejadian.

 

Wakapolri Komjen Pol. Dedi Prasetyo menyoroti pentingnya keterlibatan aktif warga dalam mendeteksi dan mencegah titik api sejak awal. Menurutnya, penegakan hukum saja tidak cukup tanpa diikuti peningkatan kesadaran masyarakat di tingkat lokal.

 

“Rekan-rekan harus benar-benar hadir di tengah masyarakat. Bangun komunikasi yang baik, berikan pemahaman, dan ajak masyarakat bersama-sama melakukan pencegahan sejak dini,” tegas Komjen Pol. Dedi Prasetyo saat memberikan pembekalan di Jakarta, Senin (7/9/2026).

 

Komposisi Personel dan Fokus Tugas

 

Rombongan gelombang kedua ini melengkapi 189 peserta didik yang telah diterjunkan sebelumnya, guna memastikan kontinuitas kegiatan pencegahan di lapangan.

 

Kategori Peserta – Jumlah Personel

 

Peserta Sespimti – 64 orang

 

Peserta Sespimmen – 207 orang

 

Peserta SPPK – 29 orang

 

Pendamping – 22 orang

 

Total Personel Gelombang II – 322 orang.

 

Para perwira yang tengah menempuh pendidikan kepemimpinan ini dijadwalkan bertugas selama 10 hari, dengan fleksibilitas durasi menyesuaikan dinamika kondisi di lapangan.

 

Menjadikan Masyarakat Solusi Utama

 

Dalam arahannya, Wakapolri mewanti-wanti agar seluruh petugas tidak memposisikan diri secara patronal atau menggurui. Personel diminta aktif berdialog, memahami dinamika sosial-ekologis wilayah, dan menyampaikan edukasi bahaya kebakaran dengan bahasa yang mudah diterima.

 

Pola pencegahan di tingkat akar rumput (site level) akan disinergikan dengan berbagai pemangku kepentingan lokal, meliputi:

 

Bhabinkamtibmas & Babinsa sebagai pengawal keamanan wilayah.

 

Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai garda terdepan penanganan awal.

 

Kepala Desa & Tokoh Adat sebagai pilar kepemimpinan lokal.

 

Edukasi yang diberikan berfokus pada langkah preventif konkret: menghentikan praktik pembakaran lahan, merawat ekosistem sekitar, serta mempercepat pelaporan jika menemukan potensi titik api. Di samping menjalankan misi edukasi, penugasan ini juga dirancang sebagai ajang evaluasi lapangan bagi para calon pimpinan Polri.

 

Mereka diharapkan mampu memetakan akar masalah Karhutla secara langsung, mengevaluasi efektivitas organisasi, serta memastikan implementasi kebijakan berjalan optimal di tingkat tapak sebelum potensi api membesar menjadi bencana skala nasional. Sumber berita: (Red Kurnia)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA