SIJUNJUNG, kpktipikor.id— Siapa yang menyangka, dari tumpukan sampah bisa lahir gerakan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, bahkan peluang ekonomi? Itulah yang terus dibuktikan oleh sosok inspiratif asal Kabupaten Sijunjung, Govvinda Yuli Effendi.
Govvinda, yang akrab disapa Igove, merupakan penggagas Bank Sampah yang sejak 2018 konsisten mengajak masyarakat untuk melihat sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang masih memiliki nilai dan dapat dikelola menjadi berkah.
Perjalanan tersebut sebelumnya dikenal melalui Bank Sampah Berkah Sijunjung, yang kisahnya pernah diberitakan Harian Haluan pada 26 Februari 2024 dalam rubrik Inspirasi dengan judul “Gerakan Mengubah Sampah Menjadi Berkah.”
Kini, memasuki 2026, gerakan tersebut terus berkembang dan bertransformasi. Bank Sampah Berkah resmi berkembang menjadi Bank Sampah HOPE, dengan semangat baru untuk memperluas pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
HOPE merupakan singkatan dari Holistik Organik Plastik Ekosistem, yang menggambarkan arah gerakan Bank Sampah HOPE dalam membangun pengelolaan sampah yang lebih menyeluruh, tidak hanya berfokus pada pengumpulan sampah, tetapi juga edukasi, pemberdayaan, pengolahan, ekonomi sirkular, dan kepedulian terhadap ekosistem.
Dari Gerakan Lingkungan Menuju Bank Sampah Digital
Jika pada awalnya kegiatan Bank Sampah lebih banyak dilakukan secara konvensional, kini Bank Sampah HOPE mulai memasuki era digital.
Bank Sampah HOPE telah memiliki aplikasi HOPE Eco, sebuah aplikasi bank sampah yang dikembangkan untuk mendukung pelayanan dan pengelolaan nasabah secara digital.
Melalui HOPE Eco, masyarakat dapat memperoleh informasi mengenai layanan Bank Sampah, melakukan pendaftaran sebagai nasabah, serta mendapatkan informasi terkait aktivitas dan jenis sampah yang dapat dikelola.
Selain aplikasi, Bank Sampah HOPE juga telah memiliki website resmi banksampahhope.com sebagai bagian dari pengembangan ekosistem digitalnya.
Transformasi tersebut menjadi langkah baru bagi Bank Sampah HOPE untuk membuat pengelolaan sampah semakin mudah, transparan, dan dapat diakses masyarakat.
Sampah Bisa Menjadi Emas
Salah satu program yang menjadi bagian dari pengembangan Bank Sampah HOPE adalah program menabung sampah menjadi emas melalui kerja sama dengan PT Pegadaian.
Melalui program tersebut, sampah yang dikumpulkan dan memiliki nilai ekonomi dapat dikonversikan menjadi tabungan yang kemudian diarahkan pada Tabungan Emas Pegadaian.
Program ini membawa pesan bahwa sampah tidak hanya memiliki nilai ekonomi ketika dijual kembali, tetapi juga dapat menjadi bagian dari upaya masyarakat membangun aset untuk masa depan.
Bagi Govvinda, konsep tersebut merupakan cara untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
«“Sampah bukan hanya sesuatu yang kita buang. Kalau dikelola dengan baik, sampah bisa memiliki nilai dan memberikan manfaat kembali kepada masyarakat.”»
Menjadi Mitra Yayasan KEHATI
Perjalanan Bank Sampah HOPE juga semakin berkembang melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Salah satunya adalah Yayasan KEHATI, di mana Bank Sampah HOPE menjadi mitra dalam pengembangan pengelolaan sampah.
Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat, meningkatkan edukasi lingkungan, serta memperluas dampak program ke berbagai wilayah.
Bank Sampah HOPE juga terus mengembangkan pendekatan berbasis komunitas dengan melibatkan masyarakat, sekolah, pelaku UMKM, kelompok wisata, hingga berbagai unsur di tingkat nagari.
Dari Sijunjung untuk Gerakan Lingkungan
Perjalanan Govvinda tidak selalu berjalan mudah. Pada masa awal, kegiatan mengumpulkan dan memilah sampah dari rumah ke rumah masih dianggap sebagai sesuatu yang tidak biasa.
Namun, konsistensi dalam memberikan edukasi perlahan mengubah pandangan tersebut.
Bank Sampah HOPE kini tidak hanya berbicara mengenai sampah, tetapi juga mengenai edukasi, pemberdayaan masyarakat, ekonomi sirkular, pengurangan sampah, dan inovasi digital.
Pengembangan program juga dilakukan di sejumlah wilayah Sijunjung, termasuk kawasan yang berkaitan dengan pengembangan wisata dan Geopark Ranah Minang Silokek Sijunjung.
Dari gerakan yang bermula pada 2018 tersebut, Govvinda terus membawa pesan sederhana: perubahan lingkungan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Perubahan dapat dimulai dari rumah, dari kebiasaan memilah sampah, kemudian berkembang menjadi gerakan bersama.
Kini, perjalanan itu telah membawa Bank Sampah Berkah menuju identitas baru sebagai Bank Sampah HOPE, lengkap dengan aplikasi HOPE Eco, website banksampahhope.com, program menabung sampah menjadi emas bersama Pegadaian, serta kolaborasi bersama Yayasan KEHATI.
Bagi Govvinda, perjalanan tersebut bukan sekadar tentang sampah.
Ini adalah tentang bagaimana sesuatu yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat dikelola menjadi peluang, bagaimana masyarakat dapat diberdayakan, dan bagaimana gerakan kecil dari Sijunjung dapat terus berkembang menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan.
Dari Bank Sampah Berkah menuju Bank Sampah HOPE, perjalanan Govvinda Yuli Effendi menunjukkan bahwa gerakan lingkungan dapat terus tumbuh mengikuti zaman: dari memilah sampah, menjadi pemberdayaan, kemudian menuju ekosistem bank sampah digital.
Sumber: Dokumentasi Bank Sampah HOPE dan Harian Haluan, 26 Februari 2024
Mardius C,JI,.C,JLWI
Tidak ada komentar