Dari Kelas Digital hingga Kancah Dunia: Strategi Wakapolri Cetak Generasi Baru Polwan Berprestasi

waktu baca 4 menit
Kamis, 1 Okt 2026 12:08 13 Korlip Nasional

KPK TIPIKOR INVESTIGASI JATIM BANYUWANGI

 

JAKARTA – Pendekatan pendidikan bagi calon Polisi Wanita (Polwan) di Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) Lemdiklat Polri kini tengah mengalami transformasi besar. Guna memastikan para siswa tidak hanya menguasai teori tetapi juga memiliki kompetensi praktis, Sepolwan kini menerapkan sistem Outcome Based Education (OBE) dan Learning Management System (LMS).

Langkah strategis ini menjadi fokus utama Wakapolri Komjen Pol. Prof. Dr. Dedi Prasetyo, S.H., M.Hum., M.Si., M.M., saat melakukan kunjungan kerja ke Sepolwan Lemdiklat Polri di Jalan Ciputat Raya, Jakarta Selatan, pada Rabu (30/9/2026).

Dalam kunjungan tersebut, Wakapolri menegaskan bahwa modernisasi pendidikan adalah mutlak diperlukan untuk merespons dinamika sosial. “Masyarakat berubah, tantangan berubah, maka cara kita belajar juga harus berubah. Polwan ke depan harus mampu menggunakan teknologi, berpikir kritis, berkomunikasi dengan baik, dan memahami kebutuhan masyarakat,” ujar Komjen Pol. Dedi Prasetyo di hadapan para siswa.

Sistem OBE yang diterapkan di Sepolwan mengubah orientasi pengajaran dari sekadar penyampaian materi (transfer pengetahuan) menjadi pembentukan kompetensi. Siswa kini dituntut untuk memahami secara mendalam cara menggunakan dan menerapkan pengetahuan mereka dalam situasi penugasan yang nyata. Sementara itu, LMS hadir sebagai bentuk digitalisasi yang mengintegrasikan akses materi, ruang diskusi, dan evaluasi pembelajaran secara fleksibel.

Kasepolwan Lemdiklat Polri Kombes Pol. Dr. Melda Yanny, S.I.K., M.H., membenarkan bahwa ekosistem belajar saat ini telah sepenuhnya melibatkan perangkat teknologi seperti laptop dan platform digital. “Siswa sekarang merupakan generasi yang sangat dekat dengan teknologi. Pengajar kini lebih banyak berperan sebagai fasilitator, sementara siswa didorong untuk aktif berdiskusi dan berpikir kritis,” jelas Melda.

Menyelaraskan Teori Kelas dan Praktik Lapangan

Selain kecakapan teknologi, Wakapolri juga menyoroti pentingnya kemampuan komunikasi yang harus terus diasah, terutama untuk diuji langsung melalui latihan kerja (latja). Polwan dituntut memiliki empati sosial, mampu mendengarkan aspirasi masyarakat, serta menjelaskan kebijakan secara tepat.

Keterampilan komunikasi ini dinilai semakin krusial di tengah meningkatnya pelibatan Polri dalam mengawal berbagai program pemerintah, termasuk perlindungan sosial. “Polisi bekerja dengan masyarakat. Karena itu kemampuan komunikasi menjadi kompetensi utama. Apa yang dipelajari di kelas harus bisa dibawa ke lapangan,” tegas Wakapolri.

Pemetaan Talenta dan Prestasi Internasional

Kunjungan Wakapolri tidak sebatas pada peninjauan fasilitas pendidikan seperti kelas digital, arena judo, lapangan tembak, dan asrama. Ia juga menyempatkan diri berdialog untuk memetakan bakat dan prestasi para siswa yang dinilai sangat membanggakan.

Salah satu siswa yang menarik perhatian adalah Fransina Putri Iriani Blesya (Nosis 184, Kelas 3B), siswa utusan Polda Papua Barat Daya. Putri seorang nelayan dan guru ini merupakan lulusan SMA Kurikulum Merdeka yang pernah meraih beasiswa penuh dari Pemerintah New South Wales untuk studi Bachelor of Chemical Engineering di Macquarie University, Australia. Fransina juga fasih berbahasa Inggris dan memiliki rekam jejak prestasi akademik di berbagai olimpiade sains nasional hingga ekshibisi internasional.

Tidak hanya di bidang akademik, Sepolwan saat ini juga menaungi sembilan siswa yang tengah berlaga di kompetisi olahraga tingkat dunia. Delapan siswa tercatat mengikuti ASEAN Games di Jepang untuk cabang olahraga tinju, balap sepeda, dan hockey, di antaranya Nabila (Nosis 648), Ayustina Delia Priatna (Nosis 338), serta enam atlet hockey lainnya. Sementara satu siswa, Kadek Adi Asih (Nosis 066), mewakili Indonesia di Kejuaraan Dunia Panjat Tebing di China dan Chili.

Secara keseluruhan, talenta siswa Sepolwan saat ini sangat bervariasi, mencakup penguasaan bahasa asing (Arab, Turki, Spanyol), seni musik dan tari, hingga kemampuan public speaking dan stand-up comedy.

Menanggapi hal tersebut, Wakapolri menegaskan bahwa Polri akan terus mengoptimalkan manajemen talenta. “Prestasi jangan berhenti sebagai piala. Jadikan itu sebagai modal untuk terus belajar dan berkembang. Kalian harus terus meningkatkan kemampuan karena tantangan Polri ke depan semakin kompleks,” pesannya. Ia juga mendorong siswa berprestasi untuk mengejar pendidikan lanjutan, termasuk S1 di STIK maupun program beasiswa LPDP.

Sejalan dengan visi tersebut, Kalemdiklat Polri Komjen Pol. Drs. R.Z. Panca Putra S., M.Si., menyatakan komitmennya untuk terus membarui sistem pendidikan dan memperluas kerja sama internasional. Pihaknya menargetkan pada tahun 2027, Sepolwan dapat memaksimalkan kapasitasnya untuk mendidik hingga 1.000 Polwan baru dengan kualitas sarana prasarana yang jauh lebih mumpuni.

Melalui sinergi antara pendekatan OBE, perluasan ruang belajar via LMS, praktik lapangan yang aplikatif, serta manajemen talenta yang terarah, Polri optimis dapat melahirkan generasi Polwan yang kritis, dinamis, dan tangguh di era digital. Sumber berita: (Red Jaskurnia)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA