Jalan Rusak Tak Pernah Tersentuh Pembangunan, Warga Desa Oe Ekam Keluhkan Aktivitas Terhambat

waktu baca 3 menit
Rabu, 17 Des 2025 23:04 218 kabiro Timur Tengah

Oe Ekam | Senin, 15 Desember 2025

Jalan Rusak Tak Pernah Tersentuh Pembangunan, Warga Desa Oe Ekam Keluhkan Aktivitas Terhambat

Timor Tengah Selatan – Masyarakat Desa Oe Ekam, Kecamatan Noebeba, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kembali mengeluhkan kondisi jalan penghubung di wilayah mereka yang rusak parah dan tak pernah tersentuh pembangunan selama puluhan tahun.

Seorang warga Desa Oe Ekam berinisial IT mengungkapkan bahwa jalan tersebut sudah ada sejak sebelum dirinya lahir, namun hingga kini tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah. Akibatnya, aktivitas masyarakat sehari-hari tidak berjalan normal, terutama saat musim hujan.

“Dari saya belum lahir sampai sekarang, jalan ini tidak pernah diperhatikan. Kalau hujan, masyarakat sangat susah melewati jalan ini,” ujar IT saat ditemui media di Desa Oe Ekam, Senin (15/12/2025).

Menurut IT, jalan tersebut merupakan akses penting karena menghubungkan beberapa jalur dan sering digunakan masyarakat dari berbagai wilayah. Bahkan, jalan ini menjadi jalur alternatif yang dapat tembus hingga ke wilayah Bena. Namun kondisi jalan yang semakin rusak membuat mobilitas warga sangat terganggu.

Ia menuturkan, pernah ada beberapa pihak dari kabupaten yang turun langsung melihat kondisi jalan tersebut. Namun hingga kini, belum ada tindak lanjut atau realisasi pembangunan.

“Kalau sudah dekat pemilihan kepala daerah, banyak yang masuk kampanye dan janji mau perhatikan jalan ini. Tapi setelah itu, tidak pernah ada realisasi,” ungkapnya.

IT juga mengaku telah berulang kali menyuarakan persoalan ini dalam rapat desa maupun rapat di tingkat kecamatan. Namun, semua aspirasi tersebut belum membuahkan hasil nyata.

“Sudah sering kami bicara dalam rapat, baik di desa maupun di kecamatan, tapi sampai sekarang tidak ada pelaksanaan pembangunan,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan oleh istri IT. Ia menceritakan pengalamannya saat membawa pisang untuk dijual ke Pasar Inpres Soe. Akibat kondisi jalan yang rusak, pisang yang dibawa hancur saat tiba di pasar dan terpaksa dijual dengan harga murah.

“Pernah saya bawa pisang ke pasar, tapi sampai di Soe sudah hancur semua karena jalan rusak. Akhirnya dijual murah,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa terkadang mereka harus menggunakan jasa ojek untuk menuju ke kota dengan ongkos berkisar antara Rp60.000 hingga Rp100.000. Biaya tersebut dinilai sangat memberatkan dan tidak sebanding dengan hasil jualan.

“Uang ojek saja sudah mahal, belum cukup untuk hidup, apalagi untuk biaya sekolah anak-anak,” keluhnya.

IT menegaskan bahwa secara geografis Desa Oe Ekam berada di wilayah tengah antara Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Kabupaten Kupang. Namun kondisi yang mereka alami seolah menunjukkan bahwa desa tersebut jauh dari perhatian pemerintah.

“Kami ini berada di tengah-tengah TTS dan Kabupaten Kupang, tapi rasanya seperti tinggal di tempat yang sangat jauh dari kota dan jauh dari pandangan pemerintah,” tegas IT.

Ia berharap, dengan adanya wartawan yang melintas dan mendengarkan langsung keluhan masyarakat, pemerintah yang berwenang dapat segera turun ke lokasi untuk melihat kondisi jalan dan mengambil langkah nyata.

“Kami berharap ada perhatian dan tanggapan dari pemerintah supaya kami juga bisa merasakan kesejahteraan,” pungkasnya.

Media ini memperoleh informasi tersebut saat mengunjungi dan berdialog langsung dengan masyarakat Desa Oe Ekam pada Senin, 15 Desember 2025.

(Ferdinandus)

kabiro Timur Tengah

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA