Lewat”NGOPI”DMI Dan PRIMA DMI Makassar Bahas Kriteria Ideal Ke Depan

waktu baca 3 menit
Sabtu, 11 Apr 2026 21:41 5 Wartawan Makasar

 

MAKASSAR ,KPK Tipikor,id– Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Makassar, Drs. H.M. Yunus DJ bersama Ketua Perhimpunan Remaja Masjid (PRIMA) DMI Makassar, Asrijal Syahruddin, menegaskan bahwa pemimpin Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) ke depan harus mampu mengubah wajah zakat dari sekadar bantuan konsumtif menjadi modal pemberdayaan yang memerdekakan mustahik.

Hal tersebut disampaikan dalam diskusi bertajuk “Mencari Pemimpin Baru BAZNAS Makassar” yang dikemas dalam acara santai bernama “NGOPI” (Ngobrol Pintar), digelar di Warkop Kualiti Coffe, Jalan Tudopoly Raya, Sabtu (11/04/2026).

Yunus DJ menyambut baik gagasan PRIMA DMI ini. Menurutnya, lembaga pemerintah nonstruktural ini membutuhkan pemimpin yang berani mendobrak kemapanan, mengadopsi teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai luhur, dan mampu membawa BAZNAS menjadi motor penggerak kebangkitan umat.

“BAZNAS layak mendapatkan pemimpin yang tidak hanya ahli dalam konsep, tetapi juga tangkas di lapangan, dan jujur dalam setiap sen yang mengalir. Suksesnya BAZNAS bukan diukur dari berapa banyak dana yang terhimpun, melainkan berapa banyak senyuman di wajah mustahik,” ujar Yunus DJ.

Sementara itu, Ketua PRIMA DMI Kota Makassar, Asrijal Syahruddin, menyebut acara ini sebagai langkah awal yang elegan untuk mengawal proses suksesi kepemimpinan. Ia menekankan bahwa pemimpin BAZNAS idealnya adalah sosok yang memiliki “Otak Korporasi” untuk profesionalisme pengelolaan dana, serta “Hati Seorang Aktivis” untuk empati dan pelayanan kepada masyarakat.

“Mencari pemimpin BAZNAS bukan perkara memilih nama dari daftar panjang, melainkan mencocokkan visi dengan denyut nadi masyarakat Makassar. Transparansi adalah harga mati, dan pelayanan umat adalah kompas utama,” tegas Asrijal.

Asrijal menambahkan, di era digital saat ini, figur yang dicari tidak hanya paham fikih zakat secara tekstual, tapi juga mahir dalam digitalisasi ekonomi. Mengingat potensi zakat di Kota Makassar mencapai Rp1,3 triliun, pengelolaan yang profesional sangat diperlukan untuk merangkul berbagai kalangan, mulai dari milenial hingga pengusaha.

Diskusi yang berlangsung hangat ini menghadirkan tiga narasumber utama, yakni Kepala Bagian Kesra Kota Makassar H. Muh. Syarief, Ketua BAZNAS Kota Makassar HM. Ashar Tamanggong, dan Ketua Rumah Zakat Sulsel Amir, ST, MM.

Kriteria Pemimpin Ideal

Dalam pemaparannya, H.M. Ashar Tamanggong berharap pemimpin BAZNAS ke depan adalah sosok yang ikhlas dan selesai dengan dirinya sendiri, tidak memikirkan mencari nafkah dari jabatan tersebut. Ia juga menekankan pentingnya semangat kearifan lokal “Siri’ na Pacce” yang diterjemahkan ke dalam program zakat yang produktif.

“Visi utamanya adalah bagaimana mengubah mustahik (penerima zakat) menjadi muzakki (pemberi zakat). Pemimpin baru harus mampu merasakan denyut nadi masyarakat di kawasan pesisir, lorong-lorong sempit, hingga perkampungan kumuh,” ujar Ashar.

Senada dengan itu, Muh. Syarief menyoroti pentingnya kapasitas diplomatik untuk membangun kolaborasi pentahelix bersama pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media. Hal ini penting agar zakat tidak hanya dilihat sebagai kewajiban agama, tapi juga bentuk tanggung jawab sosial (CSR) yang berdampak luas bagi stabilitas ekonomi kota.

Sementara itu, Amir menegaskan bahwa integritas adalah kunci utama. Pemimpin BAZNAS harus mampu menjembatani kewajiban yang menenangkan hati muzakki dan penerimaan yang memuliakan kedudukan mustahik.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan penyerahan buku berjudul “Langit tak Pernah Offline” karya HM. Ashar Tamanggong kepada para pembicara dan peserta.(*)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA