Anak SD bunuh diri di Ngada NTT kekuranga perlengkapan sekolah jadi Peringatan nyata untuk negara

waktu baca 3 menit
Jumat, 6 Feb 2026 12:07 101 Intelijen Nasional

Aktifis Dody Almira sumatera selatan gerakan pemantau pembangunan dan aset negara (DPP GPP- PAN PROV Sumsel) Mengecam Keras, Dorong Tindakan Tegas terhadap Pejabat pemerintah setempat khususnya NTT yang Lalai hingga terjadi musibah yang menyayat hati ini.hingga menggemparkan publik

Palembang, 6 Februari 2026 KPK Tipikor id sumsel. Sebuah tragedi menyayat hati mengguncang masyarakat ketika seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) mengakhiri nyawanya karena tidak mampu membeli pena dan buku tulis. Sebelum kejadian, korban yang dikenal sebagai YBR meninggalkan surat kepada ibundanya, Mama Reti, yang ditulis dalam bahasa Ngada dengan pesan yang penuh kesedihan.

Dalam surat yang ditulis di kertas TII dengan tulisan yang masih goyah, bunyi aslinya berbunyi: “KERTAS TII MAMA RETI, MAMA GALO ZEE MAMA MOLO, JA’OGALO MATA MAE RITA EE MAMA, MAMA JAO GALO MATAMAE WOE RITA NE’E GAE NGAO EE MOLO MAMA”. Setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, isi surat tersebut menjadi sangat menyakitkan hati: “SURAT BUAT MAMA RETI. MAMA SAYA PERGI DULU MAMA. RELAKAN SAYA PERGI (MENINGGAL). JANGAN MENANGIS YA MAMA. MAMA SAYA PERGI (MENINGGAL) TIDAK PERLU MAMA MENANGIS DAN MENCARI ATAU MERINDUKAN SAYA. SELAMAT TINGGAL MAMA.”

Informasi terbaru menunjukkan bahwa korban berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas, yang membuatnya kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasar sekolah seperti pena dan buku tulis. Hal ini dipercaya menjadi pemicu utama perasaan terbebani yang akhirnya membuatnya mengambil keputusan tragis.

Tokoh aktifis Dody Almira sumatera selatan mengecam keras atas musibah ini, sekaligus mengajukan pertanyaan tajam terkait tanggung jawab pihak berwenang setempat “Kemana pemimpinnya. kemana walikotanya, kemana Kepala (KA) Dinas Pendidikannya?kepala desanya Kemana bantuan dari pemerintah? Bukankah kucuran dana yang dikucurkan negara jumblahnya besar triliunan rupiah tetapi tidak berjalan sama sekali?”

Menurut Dody Almira, peristiwa ini merupakan suatu pukulan telak bagi negara dan para elit pejabat yang dinilainya tidak bekerja dengan sungguh-sungguh dan hanya mementingkan kepentingan pribadi sendiri. Ia mengimbau Presiden yang terhormat agar cepat memberikan tindak tegas bagi pemerintah setempat di Ngada NTT, dengan meminta agar segera dicopot seluruh jajaran yang telah lalai dan tidak benar-benar bekerja.

“Kita memerlukan pemimpin yang benar-benar memperhatikan masyarakatnya, turun ke jalan dan melihat kondisi di lapangan agar kita tahu apa keluhan dan apa kekurangan dari masyarakat. Apakah bantuan sudah tepat sasaran kepada orang yang benar-benar membutuhkan atau banyaknya penyimpangan dari anggaran yang dikucurkan dari kalangan atas sampai turun ke bawah? Apakah sudah viral begini baru kita sadar dan turun ke jalan serta segera bergerak untuk menindaklanjuti? Itu artinya kurang kesadaran dari para elit pejabat setempat yang hanya mementingkan perutnya sendiri,” ujar aktifis Dody Almira.

Kasus ini mengangkat kembali persoalan serius mengenai akses pendidikan yang setara dan kesiapan fasilitas bagi anak-anak di tingkat dasar, terutama bagi keluarga yang berada di bawah garis kemiskinan. Banyak pihak menyoroti perlunya kebijakan yang lebih konkret dari pemerintah untuk memastikan setiap anak memiliki akses terhadap perlengkapan sekolah yang layak, serta dukungan psikologis agar mereka tidak merasa terisolasi atau terbebani oleh kesulitan ekonomi keluarga. Beberapa organisasi masyarakat sudah mulai menggerakkan kampanye pengumpulan perlengkapan sekolah untuk anak-anak yang membutuhkan, sebagai bentuk tanggapan segera terhadap tragedi ini.

Editor
KA Biro Kota Palembang
Dody Almira

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA