17 Januari 2026
27 Rajab dan Peristiwa Agung Perintah Shalat
Bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1447 H.
merupakan momentum bersejarah dalam Islam, karena pada malam itulah terjadi peristiwa Isra’ dan Mi‘raj Nabi Muhammad ﷺ. Sebuah perjalanan luar biasa yang tidak hanya menunjukkan kemuliaan Rasulullah ﷺ, tetapi juga menegaskan kedudukan shalat sebagai ibadah paling fundamental dalam kehidupan seorang muslim.
Berbeda dengan perintah ibadah lainnya yang disampaikan melalui wahyu di bumi, shalat diperintahkan langsung oleh Allah SWT kepada Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha, tanpa perantara. Hal ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi pilar utama agama dan tolok ukur keimanan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الصلاة عماد الدين فمن أقامها فقد أقام الدين ومن تركها فقد هدم الدين
“Sholat adalah tiang agama, maka barang siapa mendirikan sholat, sungguh ia telah menegakkan agamanya; dan barang siapa meninggalkan sholat, sungguh ia telah merobohkan agamanya itu.”
(HR. Baihaqi)
Namun, harus diakui dengan jujur, ayat dan hadis tentang shalat sering kita dengar, tetapi dalam praktiknya belum sepenuhnya menghadirkan perubahan nyata
baik dalam kekhusyukan pribadi maupun dalam perilaku sosial dan keluarga.
Shalat sebagai Cermin Ketaatan dan Ketakwaan
Shalat sejatinya adalah cermin ketaatan seorang hamba kepada Allah SWT. Ia menjadi bukti hubungan vertikal antara manusia dan Tuhannya (ḥablum minallāh), yang seharusnya berdampak langsung pada hubungan horizontal dengan sesama manusia (ḥablum minannās).
Allah SWT berfirman:
فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ ١٦
Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS At-Taghabun :16)
Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang realistis dan penuh kasih sayang, tidak membebani hamba-Nya di luar kemampuan.
Namun pada saat yang sama, ayat ini juga menuntut kesungguhan dalam ketaatan, bukan sekadar formalitas ibadah.
Shalat yang ditegakkan dengan kesadaran akan melahirkan:
* kejujuran,
* tanggung jawab,
* ketenangan jiwa,
* dan komitmen moral dalam kehidupan.
Dampak Shalat terhadap Kehidupan Keluarga
Shalat tidak berhenti pada sajadah, tetapi harus memancar dalam kehidupan rumah tangga. Kualitas shalat seseorang sangat berpengaruh terhadap kualitas hubungan dalam keluarga.
Allah SWT berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥
Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
( QS Al-‘Ankabut : 45)
Jika shalat benar-benar ditegakkan, maka ia akan melahirkan:
* kelembutan dalam berbicara,
* kesabaran dalam menghadapi masalah,
* tanggung jawab dalam menunaikan amanah keluarga.
Sebaliknya, jika shalat tidak memberi dampak pada akhlak, maka yang perlu dievaluasi bukan orang lain, tetapi kualitas shalat itu sendiri.
4. Cinta dalam Keluarga Harus Diaplikasikan, Bukan Sekadar Diucapkan
Cinta dalam keluarga terutama antara suami dan istri tidak cukup hanya dengan kata-kata.
Cinta sejati harus diwujudkan dalam sikap, pengorbanan, dan tanggung jawab.
Seorang suami yang mengaku mencintai istrinya, tetapi:
* lalai dalam kewajiban,
* abai terhadap nafkah lahir dan batin,
* tidak memberi keteladanan iman,
maka cinta itu perlahan akan memudar dan kehilangan kesuciannya.
Shalat seharusnya menjadi pengontrol ego dan emosi, sehingga cinta tetap terjaga dalam bingkai takwa.
5. Cinta Setengah Hati Meruntuhkan Keharmonisan Keluarga
Cinta yang tidak dibingkai oleh iman akan mudah rapuh. Ketika shalat tidak menjadi pusat kehidupan, maka:
* ego lebih dominan,
* emosi lebih dikedepankan,
* dan masalah kecil pun dapat membesar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
عن عائشة قالت “قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: خيركم خيركم لأهله، وأنا خيركم لأهلي” (رواه الترمذي)
Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku” {HR. Tirmidzi No 3895}
Hadist ini menegaskan bahwa standar kebaikan seorang mukmin tidak hanya di masjid, tetapi di rumahnya.
Akhlak di dalam keluarga adalah ukuran keimanan yang sesungguhnya.
Kepemimpinan Keluarga yang Lahir dari Shalat
Allah SWT berfirman:
An-Nisa’ · Ayat 34
اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُۗ وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا ٣٤
Laki-laki (suami) adalah penanggung jawab atas para perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari hartanya. Perempuan-perempuan saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.
(QS An-Nisa’ : 34)
Kepemimpinan dalam Islam bukan dominasi atau kekuasaan, melainkan amanah besar yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Shalat yang tegak akan melahirkan pemimpin keluarga yang:
* adil,
* sabar,
* bertanggung jawab,
* dan penuh kasih sayang.
Dari rukuk dan sujud, seorang suami belajar merendahkan ego. Dari doa, ia belajar menggantungkan harapan kepada Allah. Dari shalat, lahir kepemimpinan yang menenangkan, bukan menakutkan.
Shalat sebagai Penjaga Takwa dan Ketahanan Keluarga
Allah SWT berfirman:
وَأْمُرْ اَهْلَكَ بِالصَّلٰوةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَاۗ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًاۗ نَحْنُ نَرْزُقُكَۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوٰى ١٣٢
Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dengan sungguh-sungguh dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Kesudahan (yang baik di dunia dan akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.
( QS Thaha: 132)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat adalah tanggung jawab kolektif dalam keluarga, bukan urusan individu semata.
Rumah yang menjaga shalat akan menjadi:
* tempat tumbuhnya iman,
* madrasah akhlak,
* dan benteng dari kerusakan moral.
Shalat yang dijaga bersama akan memperkuat ikatan batin antaranggota keluarga dan menjadi penjaga takwa sepanjang hayat
Penutup: Memperbaiki Shalat, Menyelamatkan Keluarga**
Momentum 27 Rajab hendaknya menjadi bahan muhasabah bukan sekadar peringatan seremonial.
Mari bertanya pada diri sendiri:
*Sudahkah shalat kita benar-benar menjaga takwa dan keharmonisan keluarga kita?*
Jika shalat ditegakkan dengan sungguh-sungguh, maka ia akan menjadi:
* cahaya dalam rumah tangga,
* penenang di saat ujian,
* dan penjaga cinta agar tetap suci.
Mari kita perbaiki shalat kita bukan hanya gerakannya, tetapi kehadiran hati dan dampaknya dalam kehidupan**. Karena *shalat yang hidup akan melahirkan takwa yang nyata* dan takwa yang nyata akan menjaga keluarga tetap harmonis dan diridhai Allah SWT
رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاۤءِ ٤٠
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan sebagian anak cucuku orang yang tetap melaksanakan salat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
(QS Ibrahim: 40)
Penulis : Muhammad Ali Akbar
Penyuluh Agama Islam KUA sekitar TAPAKTUAN
EDITOR
@ WIRA TAPAKTUAN 1984 KPK TIPIKOR
Tidak ada komentar