Tapaktuan 10 November 2025
1. Pejuang Hakiki: Berjuang untuk Diri dan Pengabdian yang Sejati
Seorang pejuang hakiki bukan hanya mereka yang berjuang di medan perang dengan senjata, tetapi juga mereka yang berjuang melawan hawa nafsu, kebodohan, dan kemalasan dalam dirinya sendiri.
Perjuangan sejati adalah perjuangan yang berakar dari hati yang ikhlas dan tujuan yang suci — semata-mata karena Allah SWT.
Allah menegaskan dalam Al-Qur’an:
Al-‘Ankabut · Ayat 69
وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَاۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِيْنَࣖ ٦٩
walladzîna jâhadû fînâ lanahdiyannahum subulanâ, wa innallâha lama‘al-muḫsinîn
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan.
(QS Al – “Ankabut (29): 69)
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ»
“Mujahid (pejuang) sejati adalah orang yang berjuang melawan hawa nafsunya demi taat kepada Allah.”
(HR. Tirmidzi NO 1621)
Maka, perjuangan seorang Muslim sejati dimulai dari pembenahan diri menundukkan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, dan menegakkan kejujuran serta ketulusan dalam setiap amal.
Pengabdian hakiki bukan untuk mencari pujian manusia, tetapi untuk menegakkan kehormatan iman di hadapan Allah SWT.
2. Menghidupkan Semangat Pahlawan dalam Pengamalan Agama
Hari Pahlawan menjadi pengingat bahwa perjuangan bukan hanya dalam bentuk fisik atau peperangan, melainkan juga perjuangan dalam menegakkan nilai-nilai agama di tengah tantangan zaman.
Mengamalkan Islam secara menyeluruh adalah bentuk jihad terbesar, karena dengan itulah tercipta masyarakat yang beradab, bermoral, dan berkeadilan.
Allah SWT berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَاۤفَّةًۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ ٢٠٨
yâ ayyuhalladzîna âmanudkhulû fis-silmi kâffataw wa lâ tattabi‘û khuthuwâtisy-syaithân, innahû lakum ‘aduwwum mubîn
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam (kedamaian) secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan! Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu.
( QS Al – Baqorah (2) : 208
Rasulullah ﷺ bersabda:
– إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلاً أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan (sempurna dan sungguh-sungguh).
( HR. Thabrani)
Semangat pahlawan dalam Islam adalah semangat itqan—beramal dengan sempurna dan penuh tanggung jawab. Maka, menjadi “pejuang Allah” berarti menegakkan kebenaran dengan amal nyata: menjaga ibadah, menebar kebaikan, serta memakmurkan kehidupan masyarakat dengan nilai-nilai keislaman yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
3. Pejuang Allah untuk Bangsa yang Beriman dan Berkemajuan
Bangsa Indonesia yang besar dan majemuk memerlukan pejuang-pejuang Allah—mereka yang berjuang dengan keimanan dan ilmu. Ketika masyarakat berpegang teguh pada nilai-nilai agama, maka kemajuan yang dicapai tidak akan melenceng dari moral dan kemanusiaan.
Allah SWT mengingatkan:
Ar-Ra’d · Ayat 11
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ١١
lahû mu‘aqqibâtum mim baini yadaihi wa min khalfihî yaḫfadhûnahû min amrillâh, innallâha lâ yughayyiru mâ biqaumin ḫattâ yughayyirû mâ bi’anfusihim, wa idzâ arâdallâhu biqaumin sû’an fa lâ maradda lah, wa mâ lahum min dûnihî miw wâl
“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia”
( QS Ar – Ra’d (13) : 11
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
– خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR Ahmad)
Ayat dan hadis ini menegaskan bahwa kemajuan bangsa berawal dari perbaikan individu.
Setiap orang memiliki peran perjuangan sesuai kapasitasnya. Seorang penulis berjuang dengan pena-nya, menebarkan ilmu dan menyadarkan masyarakat lewat gagasan yang mencerahkan.
Seorang pendidikberjuang dengan lmu dan keteladanannya, membentuk generasi yang cerdas dan berakhlak.
Seorang pemimpin berjuang dengan kebijaksanaannya, menegakkan keadilan dan memperjuangkan kesejahteraan rakyat.
Sementara seorang petani, pedagang, maupun tenaga kerja pun tak kalah mulia perjuangannya, karena mereka menjaga ketahanan ekonomi dan memberi manfaat bagi sesama.
Dalam pandangan Islam, setiap amal yang diniatkan untuk Allah akan bernilai jihad, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
وَقَالَ لَنَا مُسْلِمٌ حَدَّثَنَا أَبَانُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah. Dan diriwayatkan pula telah menceritakan kepada saya ‘Abdurrahman bin Al Mubarak telah menceritakan kepada kami Abu ‘Awanah dari Qatadah dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah seorang muslimpun yang bercocok tanam atau menanam satu tanaman lalu tanaman itu dimakan oleh burung atau manusia atau hewan melainkan itu menjadi shadaqah baginya.”
Dan berkata kepada kami Muslim telah menceritakan kepada saya Aban telah menceritakan kepada kami Qatadah telah menceritakan kepada kami Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
( HR Bukhari No 2152 Muslim )
Maka, perjuangan di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan teknologi adalah bagian dari jihad modern yang membawa maslahat bagi umat dan bangsa.
Inilah bentuk pengabdian sejati membangun peradaban dengan iman, ilmu, dan amal saleh.
4. Membangun Jiwa Pengorbanan di Jalan Allah
Tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
Jiwa pejuang dibentuk melalui kesabaran, keteguhan, dan kesediaan untuk memberi tanpa pamrih.
Dalam Islam, pengorbanan adalah bukti cinta kepada Allah dan bentuk pengabdian tertinggi kepada sesama manusia.
Allah SWT berfirman:
۞ اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَمْوَالَهُمْ بِاَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَۗ يُقَاتِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَيُقْتَلُوْنَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ وَالْقُرْاٰنِۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَاسْتَبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ١١١
innallâhasytarâ minal-mu’minîna anfusahum wa amwâlahum bi’anna lahumul-jannah, yuqâtilûna fî sabîlillâhi fa yaqtulûna wa yuqtalûna wa‘dan ‘alaihi ḫaqqan fit-taurâti wal-injîli wal-qur’ân, wa man aufâ bi‘ahdihî minallâhi fastabsyirû bibai‘ikumulladzî bâya‘tum bih, wa dzâlika huwal-fauzul-‘adhîm
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan surga yang Allah peruntukkan bagi mereka. Mereka berperang di jalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh. (Demikian ini adalah) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya dari pada Allah? Maka, bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu. Demikian itulah kemenangan yang agung.”
( QS At – Taubah (9) : 111)
Rasulullah ﷺ bersabda:
– مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Barangsiapa berperang (berjuang) agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka ia berada di jalan Allah.”
( HR Bukhari Dan Muslim)
Pengorbanan para pahlawan bangsa dahulu harus kita lanjutkan dalam bentuk lain: bekerja dengan jujur, menegakkan keadilan, membantu sesama, dan menjaga persatuan.
Dengan itu, kita bukan hanya menjadi penerus sejarah, tetapi juga pembawa cahaya Islam yang menuntun Indonesia menuju masa depan yang berkeadaban.
Penutup
Pejuang Hakiki, Pejuang untuk Allah dan Negeri
Momentum Hari Pahlawan hendaknya menjadi cermin bagi kita untuk menilai sejauh mana perjuangan kita telah bermakna.
Pejuang hakiki adalah mereka yang berjuang tanpa pamrih, beramal dengan ikhlas, dan menjadikan setiap langkahnya sebagai ibadah.
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ ١٠٥
wa quli‘malû fa sayarallâhu ‘amalakum wa rasûluhû wal-mu’minûn, wa saturaddûna ilâ ‘âlimil-ghaibi wasy-syahâdati fa yunabbi’ukum bimâ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bekerjalah! Maka, Allah, rasul-Nya, dan orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu. Kamu akan dikembalikan kepada (Zat) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Lalu, Dia akan memberitakan kepada kamu apa yang selama ini kamu kerjakan.”
( QS At – Taubah (9): 105
Mari kita lanjutkan perjuangan para pahlawan dengan semangat Iman.
Jadilah pejuang Allah yang membela kebenaran, mengamalkan ilmu, dan membangun bangsa dengan hati yang bersih.
Dengan Iman sebagai dasar, ilmu sebagai senjata, dan akhlak sebagai pelindung, niscaya Indonesia akan menjadi negeri yang beriman, berilmu, dan berkemajuan dalam ridha Allah SWT.
Nara Sumber Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I
Penyuluh Agama Islam KUA TAPAKTUAN
EDITOR
@ WIRA TAPAKTUAN 1984’ TIPIKOR
Tidak ada komentar