Lamongan, kpktipikor. id – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), masyarakat di Lamongan , Jawa Timur, kembali dihadapkan pada kenaikan harga komoditas pangan yang signifikan, terutama cabai. Lonjakan harga ini mulai terasa sejak akhir November, memicu kekhawatiran di kalangan pedagang dan konsumen rumah tangga.(2/12/2005)
Pantauan awak Media di beberapa pasar tradisional di Lamongan , seperti Pasar Sidoharjo , menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah kini menembus angka Rp70.000 hingga Rp80.000 per kilogram, naik drastis dari harga normal yang berkisar antara Rp35.000 hingga Rp45.000 per kilogram pada bulan sebelumnya. Senada, cabai merah keriting juga mengalami kenaikan, mencapai Rp70.000 per kilogram dari sebelumnya Rp30.000-Rp35.000 per kilogram.
“Sudah hampir seminggu ini harganya naik terus, Pembeli jadi mikir dua kali kalau mau beli banyak,” keluh Ibu Lilik Rohmawati , seorang pedagang sayur asal Dusun Dermo Desa Dermo Lemahbang . Yang juga sebagai kepala Biro Media Di kabupaten Lamongan. Ia menambahkan, pasokan dari petani juga tidak sebanyak biasanya, membuat harga di tingkat distributor ikut melambung.
Kenaikan harga cabai ini diperkirakan disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah kondisi cuaca ekstrem yang melanda wilayah sentra produksi cabai di Jawa Timur dalam beberapa waktu terakhir. Curah hujan tinggi menyebabkan banyak tanaman cabai membusuk dan gagal panen, sehingga pasokan ke pasar berkurang drastis. Selain itu, peningkatan permintaan menjelang libur Nataru juga turut memicu kenaikan harga, di mana banyak rumah tangga dan pelaku usaha kuliner mulai menyiapkan kebutuhan bahan pokok.
Dampak dari lonjakan harga ini sangat dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kuliner, seperti warung makan dan rumah makan, terpaksa harus memutar otak. Beberapa ada yang mengurangi porsi cabai dalam masakannya, sementara yang lain terpaksa menaikkan harga jual produk mereka agar tidak merugi.
“Kalau harga cabai naik terus begini, keuntungan kami jadi tipis sekali. Mau tidak mau harus sedikit menaikkan harga menu, tapi takut pelanggan lari,” ujar Bapak Budi, pemilik warung soto di Lamongan.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan bijak dalam berbelanja. Alternatif seperti menggunakan cabai kering atau bumbu instan bisa menjadi pilihan untuk menyiasati harga cabai segar yang melambung tinggi. Diharapkan, pasokan cabai dapat kembali normal dan harga stabil sebelum puncak perayaan Nataru tiba.
[Iswanto]
Tidak ada komentar