Catatan kaki: Petrus Livurngorvaan
MAHATVA.ID -Langit Fordata yang bergradasi biru keperakan tampak seolah membuka tirai sejarah ketika Desa Sofyanin melangkah memasuki gerbang Desa Romean. Dalam hening yang penuh takzim, kunjungan adat itu kembali membangkitkan denyut tradisi kuno yang telah dijaga selama berabad-abad oleh dua negeri tua di Pulau Fordata.
Untuk diketahui, Secara adat, Sofyanin dan Romean terikat dalam hubungan Bapa-Anak. Sofyanin menjadi Orang Tua, Romean sebagai Anak. Namun ikatan ini bukan sekadar struktur adat. ia adalah hubungan yang sarat penghormatan, tanggung jawab, dan kesadaran kolektif bahwa keduanya berasal dari satu darah, satu garis sejarah.
Kunjungan adat tersebut bukan hanya agenda seremonial. Ia adalah panggilan ingatan yang membangunkan kembali warisan leluhur, seolah mengingatkan bahwa tradisi hanya akan hidup ketika dipraktikkan, bukan sekadar dikenang.
Melalui prosesi Tnabar Ilaa, ritual sakral yang diwariskan lintas generasi, hubungan Orang Tua dan Anak diteguhkan kembali sebagai simbol persaudaraan yang tidak lekang dimakan waktu.
Selanjutnya, Prosesi dimulai ketika para tetua adat menyambut rombongan Sofyanin di gerbang masuk Desa Romean. Dentuman tifa dan gong menyusul, bergetar dari barisan Anak Adat Sofyanin yang menelusuri jalan utama dengan membawa baki gong, tifa, serta tombak adat Laisana. Tombak itu ditancapkan ke tana sebagai tanda dimulainya peragaan Tnabar, sebuah tradisi agung yang memadukan martabat, makna, dan tutur leluhur Fordata.
Di sekitar tugu adat Romean, bale-bale dihias rapi. Suara tifa, gong, dan ratapan sol bareat menggema, menandai masuknya para penari Tnabar dengan busana adat Tanimbar. Setiap mata rumah berperan sesuai amanat leluhur, memastikan ritus Ridwal Tnabar Ilaa berlangsung tertib dan mencapai puncak sakralnya.
Tnabar Ilaa lalu dipentaskan. Setiap hentakan ritmis, setiap gerak yang terukur, bukan sekadar seni. ia adalah memori leluhur yang dihidupkan kembali. Keringat para pemuda bukan sekadar usaha, melainkan wujud sumpah persaudaraan antara Orang Tua dan Anak yang telah mengikat kedua desa sejak awal sejarah mereka. Kehadiran masyarakat adat Sofyanin dalam balutan adat luhur semakin menegaskan bahwa hubungan Bapa – Anak ini adalah komitmen darah, bukan hubungan sosial biasa.
Kepala Desa Romean menjelaskan hal itu. “Tnabar Ilaa bukan sekadar acara adat. Ia adalah denyut sejarah Tanimbar. Pemerintah desa wajib memastikan tradisi ini tetap bertahan,” ujarnya.
Sejak persiapan hingga pelaksanaan, Pemerintah Desa Romean dan Sofyanin bekerja bersama. Mereka mengatur logistik, penyambutan, pengamanan, serta koordinasi dengan para tetua adat. Sinergi ini menjadi bukti bahwa hubungan Bapa dan Anak adalah tanggung jawab bersama, bukan beban satu desa.
Pada momen puncak, Sofyanin menampilkan Tnabar Ilaa lengkap dalam tiga tahap: Tnabar Iyaan, Ifruan, dan Ivarin. Setiap tahap memiliki makna leluhur yang berbeda, namun semuanya menyatu dalam satu kesakralan yang utuh.
Para tetua adat menjelaskan maknanya dengan penuh wibawa.
“Tnabar berarti bara, Ilaa berarti merah. Panas Pela adalah bara merah yang tidak pernah padam. Itu darah persaudaraan,” tutur salah satu tetua soa.
Mereka juga menuturkan sejarah Orang Tua dan Anak – Sofyanin-Romean: lahir dari tindakan saling menolong, sumpah kesetiaan, dan pengorbanan generasi terdahulu. Semua pakem adat, pantangan, kewajiban, peran soa terus dijalankan tanpa perubahan, menjaga agar sakralitas tradisi tidak tergerus zaman.
Pada tahapan “Satseti” dalam rangkaian Tnabar Ivarin, Anak-Anak Adat Romean mencuri perhatian. Mereka muncul dari belakang barisan penari, menekan perlahan bahu para penari untuk merendahkan posisi tubuh, sesuai makna asli tarian leluhur. Gerakan sederhana tetapi sarat nilai itu menegaskan bahwa generasi muda tidak sekadar menonton – mereka mewarisi.
“Kami sebagai generasi muda harus terlibat. Kalau bukan kami, siapa yang akan menjaga ikatan adat ini?” ungkap seorang pemuda.
Melalui tradisi sakral inilah generasi muda Fordata belajar tentang persaudaraan, penghormatan pada leluhur, dan identitas budaya yang tidak boleh terputus.

Setelah seluruh prosesi Tnabar Ilaa selesai, Musyawarah Temar Lolan digelar sebagai forum memastikan komitmen adat tetap kokoh. Beberapa keputusan penting dicapai: penegasan batas wilayah, aturan adat perkawinan, serta mekanisme penanganan kasus pencurian hasil laut dan hasil bumi. Forum ini juga menetapkan jadwal kunjungan balasan lima tahunan dari Romean ke Sofyanin sebagai bagian dari menjaga kesinambungan hubungan Orang Tua dan Anak.
Musyawarah itu menyampaikan pesan kuat: persatuan adalah warisan leluhur yang harus terus dijaga.
“Leluhur telah memberikan kita persaudaraan. Tanggung jawab kita adalah menjaga bara itu tetap menyala,” ujar seorang tua adat.
Pada Minggu (30/11), rangkaian sakral itu ditutup dengan pelepasan resmi Keluarga Besar Anak Adat Sofyanin oleh Pemerintah Desa Romean, para tua adat, dan seluruh masyarakat. Rombongan kembali ke tanah asal, membawa pulang bara merah Tnabar Ilaa – simbol persaudaraan abadi yang terus menghubungkan Sofyanin dan Romean melintasi zaman.
Tidak ada komentar