Oplus_16908288
BANYUWANGI – Pemandangan di Bayurejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon saat ini bukan lagi sekadar infrastruktur yang rusak, melainkan potret nyata pengabaian keselamatan publik. Sebuah lubang raksasa menganga di badan jembatan utama, memutus urat nadi ekonomi dan pendidikan, sementara pemerintah daerah dituding hanya memberikan janji administratif tanpa aksi nyata.
Satu Jalur, Seribu Risiko, Bagi warga Desa Bayu, jembatan ini bukanlah pilihan, melainkan satu-satunya nyawa bagi mobilitas mereka. Setiap harinya, para petani yang membawa hasil bumi, anak-anak yang mengejar lonceng sekolah, hingga pekerja harian harus bertaruh nyawa melintasi sisa-sisa aspal yang kian tergerus air.
“Dampaknya luar biasa bagi warga kami. Ini bukan hanya soal akses, tapi soal keselamatan. Setiap hari warga mempertaruhkan nyawa saat melintas,” ungkap Kepala Desa Bayu, Yulia Erlina, dengan nada getir saat ditemui TIM MEDIA KPK SIGAP, & YBH PEGASUS PATALALA DAN MEDIA KPK Tipikor. Bersama
Media, TIPIKOR INVESTIGASI NEWS.DAN GLOBAL INVESTIGASI NEWS, MEDIA BHIRAWA NEWS.
Hingga saat ini, pengamanan di lokasi hanya berupa pembatas darurat seadanya. Padahal, dengan intensitas hujan yang masih tinggi di wilayah Songgon, ancaman ambrol susulan yang bisa menelan korban jiwa sewaktu-waktu sangat nyata di depan mata.
( Media KPK TIPIKOR.ID Jatim )
Paradoks Anggaran: Ada Tapi Tak Nyata
Hal yang paling menyakitkan bagi warga bukan hanya kerusakan fisiknya, melainkan ketidakpastian birokrasi. Informasi yang diterima pihak desa menyebutkan bahwa anggaran perbaikan sebenarnya sudah tersedia. Namun, antara angka di atas kertas dan semen di lapangan seolah terdapat jurang komunikasi yang lebar.
“Kami selalu mendapat jawaban yang sama: sudah dianggarkan, diminta bersabar. Tapi sampai sekarang bantuan tidak datang. Sementara warga terus menanggung risiko,” tambah Yulia.
Kelambanan ini memicu kritik tajam mengenai prioritas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait. Publik mulai mempertanyakan: jika anggaran sudah diketok, mengapa realisasi seolah berjalan di tempat sementara nyawa warga menjadi taruhannya?
Ujian Bagi Komitmen “Banyuwangi Reborn”, Kondisi ini menjadi ujian serius bagi komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam melayani masyarakat pinggiran. Kehadiran negara sedang dipertanyakan di Desa Bayu. Apakah pemerintah harus menunggu jatuhnya korban jiwa sebelum alat berat diturunkan?
Secara teknis, struktur tanah yang labil di bawah jembatan memerlukan penanganan cepat sebelum kerusakan meluas dan mengisolasi total warga Desa Bayu. Kades Yulia secara terbuka meminta Bupati Banyuwangi untuk turun tangan langsung memotong jalur birokrasi yang dianggap stagnan. “Harapan kami sederhana, segera ada tanggapan nyata. Ini jalan utama kami, satu-satunya,” pungkasnya. Sumber berita: ( Jaka As )
Tidak ada komentar