Trauma Healing Polwan: Menjemput Kembali Senyum Anak-Anak Ketambe yang Hilang Ditelan Banjir

waktu baca 2 menit
Jumat, 5 Des 2025 01:42 25 Admin KPK

Aceh Tenggara kpktipikor.id – Di balik tenda-tenda pengungsian yang masih basah oleh sisa hujan, suara tawa perlahan tumbuh kembali. Bukan karena keadaan sudah sepenuhnya pulih, melainkan karena kehadiran para Polwan Polres Aceh Tenggara yang datang membawa harapan, kehangatan, dan pelukan untuk anak-anak yang sedang melawan trauma pascabencana.

Pada Rabu (03/12/2025) sekitar pukul 11.00 WIB, Polwan turun langsung ke tiga desa yang paling terdampak banjir bandang: Desa Lauser, Lak-Lak, dan Lawe Penanggalan. Di daerah ini, air bah pada 26 November lalu tak hanya merusak rumah dan harta benda—tetapi juga merenggut rasa aman dari hati anak-anak.

Saat para Polwan tiba, anak-anak yang tadinya memeluk lutut di sudut tenda perlahan mulai mendekat. Ada yang tersipu malu, ada yang memegang erat tangan ibunya. Namun semuanya berubah ketika mereka diajak bermain, bernyanyi, dan bercerita.

Dalam hitungan menit, posko pengungsian berubah menjadi ruang penuh warna dan keceriaan.

Ada yang menari, ada yang tertawa, bahkan ada yang berani bercerita tentang malam ketika banjir datang. Para Polwan mendengarkan dengan penuh perhatian—tanpa terburu-buru, tanpa menghakimi—membiarkan anak-anak menumpahkan ketakutan yang selama ini disimpan rapat.

Dalam Pelukan Polwan, Ribuan Ketakutan Luluh Pelan-Pelan

Para Polwan tidak hanya menghibur. Mereka hadir sebagai tempat perlindungan. Sambil mengusap kepala anak-anak, mereka menenangkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tak lupa, Polwan membagikan bingkisan berisi:

susu untuk memulihkan energi anak-anak,

pampers dan pakaian dalam bagi para ibu,

makanan ringan yang membuat anak-anak langsung tersenyum,

serta kebutuhan harian lainnya yang sangat dibutuhkan di posko.

Seorang ibu di Desa Lauser bahkan menitikkan air mata ketika menerima bantuan. “Anak saya sudah tidak mau tidur sendiri sejak banjir. Hari ini dia bisa tertawa lagi,” ujarnya haru.

Trauma healing bagi korban bencana bukan pekerjaan mudah. Butuh empati, kelembutan, dan kesabaran. inilah yang ditunjukkan Polwan Aceh Tenggara—bahwa seragam bukan sekadar simbol kekuatan, tetapi juga kasih sayang.

Dengan penuh kesabaran, mereka memandu anak-anak bermain sambil mengalihkan trauma yang membekas di ingatan mereka. Setiap tawa yang terdengar hari itu menjadi tanda bahwa sedikit demi sedikit, luka batin mulai pulih.

Kegiatan ini menegaskan bahwa Polri bukan hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi juga saat masyarakat berjuang bangkit setelahnya. Polres Aceh Tenggara berkomitmen mendampingi warga hingga benar-benar pulih, baik secara fisik maupun emosional.SK

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA