Tokoh Masyarakat Noebeba, Nahor Liunima: “Banyak Perpisahan Rumah Tangga Terjadi Karena Hilangnya Rasa Hormat Istri Terhadap Suami”

waktu baca 4 menit
Selasa, 11 Nov 2025 14:09 54 Admin KPK

Noebeba, Desa Teas, Timor Tengah Selatan (TTS), 9 November 2025 — Maraknya kasus perselisihan dan perpisahan antara suami istri di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) akhir-akhir ini menuai perhatian dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari tokoh masyarakat Kecamatan Noebeba, Bapak Nahor Liunima, yang menilai bahwa persoalan ini disebabkan oleh hilangnya rasa hormat sebagian istri terhadap suaminya.

Saat ditemui media ini di kediamannya di Desa Teas, Kecamatan Noebeba, pada Minggu (9/11/2025), Bapak Nahor menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena sosial yang kian memprihatinkan tersebut. Menurutnya, pergeseran nilai dan peran dalam rumah tangga menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya angka perpisahan di wilayah TTS.

> “Zaman sekarang banyak istri yang sudah tidak menghargai suaminya. Salah satu penyebabnya karena faktor ekonomi. Banyak wanita sekarang bisa bekerja dan memperoleh penghasilan yang cukup besar. Dari situlah muncul pemikiran bahwa mereka bisa hidup mandiri tanpa bergantung pada suami,” ujar Nahor dengan nada prihatin.

 

Beliau menjelaskan bahwa perubahan pola pikir ini kerap menjadi awal dari perpecahan dalam rumah tangga. Tak jarang, istri yang telah merasa mampu secara finansial memilih untuk meninggalkan suami — baik dengan membawa anak-anak maupun pergi sendiri — karena merasa tidak lagi membutuhkan dukungan suaminya.

> “Ada yang pergi meninggalkan suami sambil membawa anak-anak, ada juga yang pergi sendiri meninggalkan semuanya. Mereka merasa bisa hidup sendiri karena sudah punya penghasilan. Padahal keputusan seperti itu sering diambil tanpa pertimbangan matang, hanya karena ego atau gengsi,” jelasnya.

 

Meski begitu, Bapak Nahor menegaskan bahwa tidak semua wanita bersikap demikian. Ia mengakui masih banyak istri yang tetap setia, sabar, dan menghormati suami walau dalam keterbatasan ekonomi. Namun, ia tidak menampik bahwa fenomena pergeseran peran ini kini semakin meluas, bukan hanya di TTS, tetapi juga di berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) bahkan di tingkat nasional.

> “Ini bukan hanya terjadi di TTS saja, tapi di banyak tempat lainnya. Ketika istri sudah merasa bisa berdiri sendiri, banyak yang mulai menganggap suaminya tidak berdaya dan akhirnya timbul pertengkaran,” tambahnya.

 

Lebih lanjut, Bapak Nahor menegaskan bahwa harga diri dan kehormatan seorang istri berada pada suaminya. Ketika seorang istri mulai menyepelekan suami, maka keseimbangan dan keharmonisan rumah tangga akan mudah goyah.

> “Kalau istri sudah mulai menganggap suaminya tidak mampu dan mulai melawan, maka rumah tangga itu akan mudah hancur. Karena suami itu kepala keluarga, dan istri adalah penolong yang setia. Kalau keduanya saling menghormati, rumah tangga akan kuat. Tapi kalau istri ingin mengambil alih posisi suami, itu yang menyebabkan kekacauan,” tegasnya.

 

Untuk menggambarkan pandangannya, Bapak Nahor mengibaratkan sistem rumah tangga seperti pemerintahan.

> “Coba bayangkan, kalau dalam satu kabupaten ada dua bupati, pasti kabupaten itu kacau. Begitu juga dengan rumah tangga, kalau ada dua kepala keluarga, maka rumah tangga itu tidak akan berjalan baik,” ujarnya dengan nada menekankan.

 

Lebih jauh, beliau menyoroti bahwa masyarakat kini terlalu menonjolkan kemandirian finansial, namun mulai mengabaikan nilai-nilai penghormatan, kesetiaan, dan keseimbangan dalam keluarga.

> “Dulu waktu awal menikah, suami istri saling menghargai dan saling menopang. Tapi seiring waktu, ketika istri sudah punya pekerjaan tetap dan penghasilan, sering muncul keinginan untuk mengatur suami. Akhirnya peran menjadi terbalik: suami kehilangan wibawa, istri merasa berkuasa, dan pertengkaran pun tak terhindarkan,” tambahnya.

 

Di akhir penyampaiannya, Bapak Nahor menegaskan bahwa persoalan ini bukan karena suami salah atau istri bodoh, melainkan karena terjadi kekeliruan dalam menempatkan peran dan tanggung jawab masing-masing. Ia mengajak seluruh pasangan suami istri untuk kembali kepada nilai-nilai dasar rumah tangga yang berlandaskan kasih dan saling menghargai.

> “Bukan karena istri salah atau suami bodoh, tetapi karena mereka keliru menempatkan posisi. Suami dan istri diciptakan untuk saling melengkapi, bukan saling menguasai. Kalau kita bisa kembali pada nilai-nilai itu, saya yakin banyak rumah tangga bisa diselamatkan,” tutup Bapak Nahor penuh harap.

 

Pernyataan tokoh masyarakat asal Desa Teas ini diharapkan dapat menjadi refleksi bagi pasangan suami istri di Timor Tengah Selatan agar senantiasa menjaga keharmonisan, menghargai peran masing-masing, serta tidak mudah terpengaruh oleh perubahan zaman yang sering menggeser nilai-nilai tradisional dalam keluarga.

Jurnalis: Ferdinandus

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA