Silaturahmi Tanpa Merendahkan Diri

waktu baca 3 menit
Sabtu, 22 Nov 2025 13:01 30 Admin KPK

Tapaktuan  22 November 2025

Silaturahmi adalah ajaran luhur yang membawa berkah, tapi menjaga harga diri juga adalah tuntunan iman.

Tidak semua jarak harus dikejar, tidak semua keheningan harus dipecah. Ketika kita belajar mencintai dalam diam dan menjaga dalam batas, di situlah letak kemuliaan adab seorang mukmin.

Islam adalah agama yang sempurna. Ia tidak hanya mengatur hubungan kita dengan Allah (hablum minallah), tapi juga mengajarkan bagaimana kita memperlakukan sesama manusia (hablum minannas). Salah satu ajaran terpenting dalam hubungan antarmanusia adalah silaturahmi.

Namun, sering kali dalam menjunjung tinggi silaturahmi, kita mengorbankan sesuatu yang juga sangat bernilai dalam Islam: Harga Diri.

Silaturahmi memang mulia. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, silaturahmi bukanlah pemaksaan. Ia bukan pengorbanan diri sampai titik kehilangan martabat.

Ketika niat baik disambut dingin, ketika kehadiran kita menjadi beban bagi orang lain, maka menjaga jarak dengan elegan adalah bagian dari hikmah.

Allah Ta’ala berfirman:

وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَـٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَـٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَـٰمًا
“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka (dengan kata-kata yang menyakitkan), mereka mengucapkan: ‘Salam’.” (QS. Al-Furqan: 63)

Ayat ini mengajarkan bahwa kelembutan bukan berarti mengizinkan diri diinjak.

Kerendahan hati tidak sama dengan kerendahan martabat. Seorang mukmin sejati adalah pribadi yang tahu kapan mendekat dan kapan menjauh dengan penuh bijaksana.

Jangan paksakan dirimu masuk ke ruang yang orang lain tutup.

Jangan kejar seseorang yang terus berlari dari hadapanmu. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi)

Apa gunanya terus menyapa jika yang kau sapa memilih untuk memalingkan muka? Apa artinya memberi perhatian jika yang menerima justru merasa terganggu? Dalam Islam, keikhlasan itu penting, tapi kesadaran diri lebih penting.

Jangan biarkan perasaan ingin menjaga silaturahmi berubah menjadi perendahan terhadap diri sendiri.

Ada kalanya diam lebih bijak dari kata-kata, dan menjauh lebih mulia daripada mendekat tanpa dihargai. Ketika seseorang memilih untuk pergi dari hidupmu, izinkan ia berlalu.

Bukankah Allah SWT sudah menjanjikan pengganti yang lebih baik bagi mereka yang sabar?

فَإِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا، إِنَّ مَعَ ٱلْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)

Dan lagi, harga diri bukan tentang kesombongan, tapi tentang menjaga kemuliaan yang Allah titipkan pada diri kita sebagai makhluk-Nya yang dimuliakan:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيٓ آدَمَ
“Dan sungguh telah Kami muliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra’: 70)

Jadi jika ada yang membuang muka, kita tidak perlu menyapa.

Jika ada yang menjauh, tidak perlu memaksa mendekat. Jika ada yang tidak suka, tak usah mengejar simpati. Silaturahmi itu ibadah, tapi bukan berarti kita harus menjadi budak perasaan atau martir dalam hubungan yang tak sehat.

Biarkan yang tidak menghargai pergi. Doakan mereka dengan hati yang lapang, tapi jangan turunkan harga diri hanya demi terlihat baik.

Karena AllahSWT tahu siapa yang tulus dan siapa yang hanya memanfaatkan.

Ingatlah, menjaga silaturahmi adalah perintah, tapi menjaga martabat adalah amanah. Keduanya bisa berjalan bersama, asal niat tetap lurus dan jiwa tetap utuh.

Semoga Allah senantiasa menuntun kita dalam setiap langkah agar bisa bersikap lembut tanpa harus lemah, tegas tanpa harus keras, rendah hati tanpa harus kehilangan kehormatan.

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ يَصِلُ الرَّحِمَ وَيَحْفَظُ كَرَامَتَهُ
“Ya Allah, jadikan aku termasuk orang yang menyambung silaturahmi dan menjaga kehormatannya.”

NARA SUMBER

@ WIRA TAPAKTUAN 1984 TIPIKOR

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA