Rabat Beton Desa Spaha Bermasalah: Anggaran Rp432 Juta, Volume Kurang 340 Meter

waktu baca 3 menit
Selasa, 16 Des 2025 11:49 29 Admin KPK

Kolbano, kpktipikor.id – Kekhawatiran masyarakat Desa Spaha, Kecamatan Kolbano, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), semakin menguat terkait dugaan penyelewengan dan korupsi dana desa sebesar Rp432.588.000 yang dialokasikan untuk pembangunan rabat beton tahun 2024. Proyek yang direncanakan sepanjang 2 kilometer ternyata hanya terealisasi 1.660 meter, dengan kualitas material yang sangat buruk sehingga jalan sudah rusak berat hanya 4 bulan setelah penyelesaian. Lebih lanjut, warga mengungkapkan bahwa semua keuangan proyek tersebut dikelola oleh istri Kepala Desa.

Pembangunan rabat beton yang berjalan sejak 1 September 2024 hingga April 2025 direncanakan memiliki lebar 1,5 meter, terbagi rata 1 kilometer di Dusun I dan 1 kilometer di Dusun II. Namun, pantauan awak media dan keterangan warga menunjukkan realisasi yang jauh dari perencanaan.

“Salah satu warga, Anderias Taneo, menjelaskan kepada media pada Minggu (14/12/2025) bahwa di Dusun II hanya dibangun sekitar 740 meter – tersisa 260 meter. Di Dusun I, dari rencana 1 kilometer, yang dikerjakan hanya 920 meter – masih kurang 80 meter,” ungkap sumber di lokasi.

Dengan demikian, total panjang jalan yang selesai hanya 1.660 meter, atau kurang 340 meter dari target awal. Meskipun semua anggaran Rp432.588.000 dari APBDes 2024 telah dialokasikan, masyarakat mempertanyakan keberadaan sisa dana yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertinggal. “Uang itu uang negara, uang rakyat. Kami ingin tahu bersama, sisa pekerjaan ini uangnya ke mana?” tegas Anderias.

Selain volume yang kurang, kualitas pengerjaan juga menjadi sorotan utama. Berdasarkan Rencana Anggaran Biaya (RAB) yang diketahui warga, campuran rabat beton seharusnya menggunakan 1 sak semen, 2 ember kerikil, dan 3 ember pasir. Namun, di lapangan kondisi sebaliknya terlihat.

“Yang kami lihat, campurannya hanya 9-10 ember pasir dengan 1 sak semen – tanpa campuran kerikil yang benar. Kerikil hanya dihambur terlebih dahulu, lalu campuran pasir dan semen di lapisi dari atas, bukan pengecoran penuh. Itu hanya seperti buka dasar saja,” kata Anderias. Lebih lagi, pasir yang digunakan sepertinya bercampur tanah, membuat kualitasnya semakin menurun.

Akibat itu, jalan yang baru selesai 4 bulan sudah rusak berat. Selain itu, lebar jalan yang hanya 1,5 meter juga dinilai tidak sesuai kebutuhan. Warga bahkan telah menghibahkan tanah agar kendaraan roda empat bisa masuk ke kebun, tetapi lebar yang ada membuat mobil tidak bisa lewat – bahkan motor bertemu motor saja sudah sulit. “Paling tidak lebarnya harus 2 meter supaya bermanfaat,” tegasnya.

Yang semakin menimbulkan pertanyaan masyarakat adalah pengelolaan keuangan proyek. Warga mengungkapkan bahwa selama pembangunan rabat beton berlangsung, semua transaksi keuangan dikelola oleh istri Kepala Desa. Hal ini menambah dugaan ketidaks transparansi dalam pengelolaan dana.

Kekhawatiran juga disampaikan oleh Anggota Tim Pelaksana Kegiatan (TPK) Desa Spaha, Simon Taneo, dan Kaci Tefbana. Keduanya juga mempertanyakan sisa volume pekerjaan dan meminta agar hal tersebut dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat.

Masyarakat berharap pemerintah desa dan pihak terkait dapat memberikan penjelasan transparan, termasuk terkait pengelolaan keuangan yang dilakukan istri Kepala Desa, serta memastikan pembangunan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis agar benar-benar bermanfaat.

Hingga berita ini diturunkan, awak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada Kepala Desa Spaha untuk mendapatkan penjelasan pihak terkait, namun upaya tersebut belum berhasil

Jurnalis Ferdinandus

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA