Sabang.Aceh, kpktipikor.id. -Program MBG di Sabang menuai keluhan, kali ini dari sekolah penerima manfaat di Kecamatan Sukajaya. Orang tua siswa dan pihak guru menilai menu kering yang dibagikan pada Senin pagi, yang berisi roti, pisang, dan kacang goreng, tidak layak disebut sebagai makanan bergizi.
Salah seorang orang tua Pakrul mengaku heran setelah melihat menu yang dibawa pulang anaknya. Dirinya menilai menu tersebut minim gizi apalagi jika disandingkan dengan alokasi anggaran Rp10.000 per porsi.
“Begitu saya lihat, saya langsung heran. Roti itu keras, saya khawatir picu asam lambung. Pisang itu pelancar buang air besar. Ini sama sekali tidak sebanding dengan sepuluh ribu rupiah anggaran per porsi. Anak-anak butuh makan layak dan bernutrisi bukan jajanan,” kata pakrul Senin (08/12).
Kemudian dirinya mempertanyakan alasan dapur yang menyebut kehabisan gas elpiji, padahal menu yang disajikan terdapat kacang goreng. “Kalau gas tidak ada, kacang itu digoreng pakai apa? Pakai kayu? Lalu roti itu sudah berapa lama diproduksi? Anak saya bilang rotinya keras sekali,” tambahnya.
Sementara itu, keluhan yang sama juga datang dari seorang guru di sekolah penerima manfaat. Guru tersebut menyebut ini adalah kali kedua sekolah menerima menu kering. Ia memahami situasi kelangkaan LPG nonsubsidi di Sabang tetapi berharap ada komunikasi lebih awal dari pihak penyedia.
“Anak-anak banyak sekali yang protes, mereka tanya kenapa menunya begini. Kami sebagai guru harus menjelaskan satu per satu sambil membagi ompreng. Waktu kami banyak dihabiskan sambil membagi ompreng sekaligus memberi penjelasan dan menenangkan anak-anak yang kecewa,” keluh guru tersebut.
Menanggapi keluhan itu, Kepala SPPG Sukajaya, Andika Pratama, memberikan klarifikasi. Ia menyebut perubahan menu menjadi makanan kering dilakukan karena keterbatasan bahan mentah dan kesulitan mendapatkan elpiji, menyusul terganggunya jalur logistik akibat banjir Aceh. “Roti sebagai sumber karbohidrat, kacang sebagai protein nabati, dan pisang sebagai buah,” kilahnya.
Andika juga mengklaim menu hari ini memenuhi standar gizi. Ia berpendapat SPPG Sukajaya tetap berupaya memenuhi standar gizi dalam penyediaan menu MBG.
“Kami tetap bertanggung jawab dan berusaha maksimal untuk pemenuhan MBG bagi peserta didik dan Posyandu yang menjadi tanggung jawab SPPG meskipun sedang menghadapi sulitnya bahan mentah dan LPG,” tambahnya.
Sementara itu, Sabri yang merupakan perwakilan dari Yayasan Kurnia Cahaya Permata enggan berkomentar lebih banyak ketika ditanyakan ada atau tidaknya gizi dari menu yang disediakan hari ini. Dirinya meminta agar hal tersebut dapat ditanyakan langsung ke Ahli Gizi SPPG Sukajaya. Namun dirinya mengakui menu yang dibagikan akibar dari kelangkaan stok bapok dan pasokan LPG.
“Dapur sehari habisnya 4 tabung dan menu kering dibagikan karena lagi susah tabung gas. Perihal ada atau tidaknya gizi bisa tanyakan langsung ke Ahli Gizi bg,” terang Sabri.
Diketahui, SPPG Sukajaya ini dikelola oleh Yayasan Kurnia Cahaya Permata dan sudah beroperasi sejak akhir bulan Ramadan 2025. SPPG ini beralamat di jalan T. Nyak Arief Desa Ie Meulee kecamatan Sukajaya Kota Sabang, dan tercatat hari ini berhasil menyalurkan porsi MBG ke 13 sekolah dan 4 posyandu dengan total penerima manfaat mencapai 3.067 jiwa.
Sudar:(wrt), Kaperwil Aceh.
Tidak ada komentar