Merasa Terpinggirkan, Aliansi BOSHITAR Kirim Surat Terbuka ke Presiden Prabowo Subianto Desak Akses Infrastruktur

waktu baca 2 menit
Rabu, 25 Feb 2026 11:30 30 Korwil Nias

NIAS – Aliansi Masyarakat Banua Sibohou-Ononamolo II-Simanaere-Hilimbaruzo-Taraha-Tarahoso (BOSHITAR) mengirimkan surat terbuka yang ditujukan langsung kepada Presiden RI Prabowo Subianto. Mereka menuntut percepatan pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan di wilayah perbatasan Kabupaten Nias dan Nias Barat yang hingga kini masih terisolasi.

Kondisi geografis yang memprihatinkan di sekitar aliran Sungai Noyo disebut menjadi penghambat utama urat nadi perekonomian, pendidikan, hingga kesehatan ribuan warga di enam desa tersebut.

Dalam suratnya, Aliansi BOSHITAR mengungkapkan bahwa buruknya akses jalan membuat program unggulan pemerintah pusat sulit menjangkau mereka. Salah satunya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga satu tahun berjalan diklaim belum menyentuh anak-anak sekolah di wilayah tersebut.

“Infrastruktur yang buruk membuat program pemerintah sulit menjangkau kami. Anak-anak kami di tingkat TK hingga SMA di daerah 3T ini seolah terlupakan karena akses yang nyaris tidak bisa dilalui,” tulis aliansi dalam pernyataan resminya.

Salah satu poin krusial yang disoroti adalah kondisi Jembatan Gantung ILO di Sungai Noyo, Desa Lahagu. Jembatan yang dibangun tahun 2012 tersebut kini dalam kondisi keropos, berlubang, dan berkarat sehingga membahayakan keselamatan warga.

Masyarakat juga mengungkit kembali kunjungan tokoh nasional, Bobby Nasution, saat masa kampanye tahun 2024 lalu. Saat itu, Bobby sempat merasakan langsung sulitnya medan di wilayah BOSHITAR.
“Kami berharap Bapak Bobby Nasution tidak lupa akan janji-janjinya untuk memperhatikan pembangunan jalan dan jembatan di wilayah kami,” tegas perwakilan masyarakat.

Aliansi BOSHITAR memaparkan dua rute strategis yang butuh penanganan segera:

Rute I: Ruas jalan Desa Ononamolo II menuju Desa Tarahoso, Hilimbaruzo, dan Taraha sepanjang 6 Km, termasuk kebutuhan pembangunan jembatan permanen di atas Sungai Noyo.

Rute II: Jalur dari Kecamatan Botomuzoi (Desa Hiliwaele 1) menuju Desa Simanaere, Banua Sibohou, hingga menyeberangi Sungai Noyo ke Kabupaten Nias Barat sepanjang 10 Km.

Meski memiliki hasil bumi yang melimpah dan masyarakat yang produktif, warga mengaku frustrasi karena hasil pertanian mereka tidak bisa dipasarkan secara luas akibat biaya angkut yang mahal atau akses yang terputus saat sungai meluap.

“Kami memiliki hasil bumi, kami memiliki anak-anak berprestasi, tapi semua layu karena kurangnya infrastruktur. Kami tidak ingin menjadi beban negara, kami ingin menjadi bagian dari solusi kemajuan bangsa,” tutup surat tersebut.

Warga BOSHITAR kini menaruh harapan besar pada Presiden Prabowo Subianto, Gubernur Sumatera Utara, serta Bupati Nias dan Nias Barat agar segera turun tangan membedah isolasi wilayah yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini.
Jurnalis Sadawa

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA