Membaca Akar,Menakar Diri Pentingnya Sejarah Komprehensif Agar Tidak Asal Klaim dan Asal Bicara

waktu baca 2 menit
Jumat, 26 Des 2025 23:05 15 Wartawan Makasar
  • Ditulis Oleh Andi Fahri Makkasau / Sekjen Palasara Indonesia

Makassar,KPK Tipikor,id,(27/12/2025)Mendalami sejarah secara komprehensif adalah syarat utama agar kita memahami jati diri, posisi, dan tanggung jawab kita dalam lintasan waktu. Sejarah tidak berdiri pada satu lapis saja. Ia berlapis, bertingkat, dan saling terhubung mulai dari mitologi sejarah, periode lontara, sistem pemerintahan adat, aturan hukum adat, hingga penyusunan timeline yang runtut dan dapat diuji.

Mitologi sejarah bukan sekadar dongeng. Di sanalah tersimpan simbol, nilai kosmologis, dan pandangan hidup leluhur yang membentuk watak suatu masyarakat. Tanpa memahami mitologi, kita kehilangan kunci untuk menafsirkan lahirnya struktur adat, gelar, dan legitimasi kekuasaan. Namun mitologi harus dibaca dengan nalar sejarah, bukan ditelan mentah apalagi dijadikan alat klaim serampangan.

 

Sejarah periode lontara memberi kita pijakan tekstual. Di dalamnya tercatat silsilah, peristiwa politik, perjanjian antar kerajaan, hukum adat, dan dinamika sosial yang nyata. Lontara mengajarkan disiplin ilmiah siapa, kapan, di mana, dan dalam konteks apa sesuatu terjadi. Tanpa rujukan lontara, klaim sejarah mudah tergelincir menjadi cerita lisan yang bias kepentingan.

Lebih jauh, memahami sejarah pemerintahan adat dan aturan hukum adat adalah kunci untuk mengerti bagaimana leluhur kita mengelola kekuasaan, keadilan, dan martabat manusia. Adat bukan aksesoris budaya, melainkan sistem nilai dan hukum yang memiliki logika, etika, dan sanksi. Orang yang berbicara adat tanpa memahami hukumnya, sejatinya hanya mengutip kulit, bukan isi.

 

Penyusunan timeline sejarah yang jelas dan konsisten juga sangat penting. Timeline mencegah kita mencampuradukkan zaman, tokoh, dan peristiwa. Ia menjadi alat verifikasi agar sejarah tidak dipelintir demi pembenaran pribadi atau kelompok. Sejarah yang tidak bertimeline adalah pintu masuk kekacauan narasi.

Akhirnya, sejarah lokal harus selalu diletakkan dalam bingkai sejarah Nusantara sebagai komparasi. Dari sanalah kita memahami posisi kita tidak merasa paling tua, paling agung, atau paling benar sendiri.

Perbandingan antar wilayah dan kerajaan di Nusantara melatih kerendahan hati sekaligus ketegasan ilmiah.

Tanpa pendalaman sejarah yang utuh, orang mudah asal ngomong, piti kana-kanai, dan ngaku-ngaku tanpa dasar. Sejarah lalu dijadikan alat pamer identitas, bukan sarana pencerdasan. Padahal sejarah sejati menuntut adab kejujuran pada data, kesetiaan pada sumber, dan kebijaksanaan dalam bertutur.

Maka, belajar sejarah bukan untuk membanggakan diri, melainkan untuk menempatkan diri. Bukan untuk meninggikan ego, tetapi untuk menjaga marwah. Di sanalah sejarah berfungsi sebagai guru yang menegur, menuntun, dan mengingatkan kita agar tetap waras dalam berbicara tentang siapa diri kita dan dari mana kita berasal.

#AFM

#SekjenPalasara

Wartawan:RM

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA