Bulukumba KPK Tipikor,id,Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale,Kabupaten Bulukumba – Kamis (15/01/2025) – Rumah produksi sederhana milik Kelompok Pembatik Bunga Mawar di Desa Topanda tampak berbeda dari biasanya. Anggota kelompok yang dipimpin Andi Mawar telah berpakaian rapi, menyambut kunjungan tamu penting dari Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan.
Wajah para ibu anggota kelompok berseri-seri dengan campuran rasa gugup dan harap. Produksi batik mereka baru berjalan sekitar sebulan, setelah pada Desember 2024 Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Bulukumba yang dipimpin Andi Herfida Muchtar menghadirkan pembatik dari Yogyakarta untuk memberikan pelatihan dari nol.
“Kami belajar mulai dari mengenal kain, lilin, canting, hingga teknik mencetak motif,” ujar Andi Mawar sambil mengelus hasil produksi batiknya.
Hingga saat ini, kelompok yang terdiri dari sekitar 30 ibu-ibu produktif dari berbagai desa di Kecamatan Rilau Ale telah menghasilkan puluhan kain batik, mulai dari sarung hingga bahan kemeja. Coraknya khas Bulukumba dengan gambar perahu Pinisi, nuansa adat Kajang, tarian tradisional, hingga tagline We Love Bulukumba. Meskipun bahan masih didatangkan dari Yogyakarta, ruh karyanya lahir dari tangan perempuan Bulukumba.
“Satu lembar kain ukuran dua kali satu meter membutuhkan waktu dua hari penuh untuk diselesaikan,” jelas Andi Mawar.
Rombongan Bank Indonesia yang dipimpin Kepala Grup Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Wahyu Purnama A, bersama jajarannya, menyaksikan langsung proses produksi batik mulai dari persiapan kain hingga melihat hasil akhir. Dalam diskusi, Wahyu Purnama mengajak kelompok untuk menambah variasi corak agar lebih beragam.
“Tentu lebih awal corak harus lebih beragam lagi. Seiring dengan jumlah produksi yang meningkat, pemasarannya tidak hanya di Bulukumba, tapi juga sudah keluar kabupaten,” pinta Wahyu Purnama.
Kunjungan tersebut juga dihadiri Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagrin) Bulukumba Alfian Mallihungan, Kepala Cabang Bank Sulselbar, perwakilan Dekranasda, serta TP-PKK Bulukumba. Alfian menjelaskan bahwa kedatangan Bank Indonesia bertujuan untuk melihat langsung potensi pengembangan UMKM pembatik di daerah.
“Harapan kita, ke depan bisa terjalin kerja sama untuk mengembangkan batik Bulukumba agar semakin dikenal dan berdaya saing,” ujarnya.
Bagi para pembatik yang sebelumnya juga telah memproduksi kain atau sarung pantai, kunjungan ini menjadi motivasi tersendiri dalam menenun harapan pada setiap helai kain batik Bulukumba.(*)
Editor:Andi Mustafa
Tidak ada komentar