Tapaktuan 02 November 2025 Nama lengkap Hasan bin Ali bin Abi Thalib adalah Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim Al-Qurasyi Al-Hasyimi.
Ia merupakan cucu dari Rasulullah SAW, putra dari Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra .
Ia dikenal karena kemuliaan hatinya, kasih sayang, dan perannya dalam menjaga perdamaian di kalangan umat Muslim .
Kelahiran dan Keluarga
Hasan bin Ali lahir di Mekah pada 15 Ramadhan tahun ke-3 Hijriah.
Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan nilai-nilai keislaman yang kuat, dengan ayah yang merupakan sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW dan ibu yang merupakan sosok mulia dan penuh kasih sayang .
Keunggulan dan Sifat Mulia
Hasan bin Ali dikenal sebagai sosok yang penyayang, penuh cinta kasih, sabar, tegas, pemurah, dan memiliki akhlak terpuji.
Ia tidak menyukai pertengkaran dan pertumpahan darah. Rasulullah SAW memuji Hasan sebagai pemimpin pemuda surga .
Peran dalam Kekhalifahan
Setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib, Hasan diangkat menjadi gubernur oleh penduduk Kufah.
Namun, untuk menghindari pertumpahan darah di kalangan umat Islam, Hasan menyerahkan jabatan khalifah kepada Muawiyah bin Abi Sufyan dengan syarat tertentu, seperti jaminan keamanan dan keadilan bagi umat Islam.
Keputusan ini menunjukkan kedewasaan politik dan Prioritasnya terhadap kepentingan umat .
Wafat
Hasan bin Ali wafat karena diracun oleh istrinya, Ja’dah binti Asy’ats bin Qais, yang terpengaruh oleh bujuk rayu Yazid bin Muawiyah.
Bahkan dalam kondisi sakit, Hasan tidak bersedia mengungkap siapa yang meracuninya, menunjukkan dan keengganannya untuk menyebabkan pertumpahan darah .
وَقَرْنَ فِى بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ ٱلْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتِينَ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَطِعْنَ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥٓ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ ٱلرِّجْسَ أَهْلَ ٱلْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
Artinya: Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.
( QS Al Ahzab (33) : 33)
Ayat ini diyakini oleh banyak ulama sebagai bukti kesucian Ahlul Bait, termasuk Hasan bin Ali.
Riwayat menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengumpulkan Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain di bawah jubahnya saat ayat ini diturunkan .
فَمَنْ حَاۤجَّكَ فِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ اَبْنَاۤءَنَا وَاَبْنَاۤءَكُمْ وَنِسَاۤءَنَا وَنِسَاۤءَكُمْ وَاَنْفُسَنَا وَاَنْفُسَكُمْۗ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَّعْنَتَ اللّٰهِ عَلَى الْكٰذِبِيْنَ ٦١
“Siapa yang membantahmu dalam hal ini setelah datang ilmu kepadamu, maka katakanlah (Nabi Muhammad), “Marilah kita panggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu, kemudian marilah kita bermubahalah agar laknat Allah ditimpakan kepada para pendusta.”
( QS Ali Imran (3):61)
Ayat ini berkaitan dengan peristiwa Mubahalah, di mana Nabi Muhammad SAW mengajak kaum Nasrani Najran untuk berdoa bersama agar Allah melaknat pihak yang berdusta.
Dalam peristiwa ini, Nabi membawa serta Fatimah, Ali, Hasan, dan Husain.
Hasan dan Husain disebut sebagai “anak-anak kami”
ذٰلِكَ الَّذِيْ يُبَشِّرُ اللّٰهُ عِبَادَهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِۗ قُلْ لَّآ اَسْـَٔلُكُمْ عَلَيْهِ اَجْرًا اِلَّا الْمَوَدَّةَ فِى الْقُرْبٰىۗ وَمَنْ يَّقْتَرِفْ حَسَنَةً نَّزِدْ لَهٗ فِيْهَا حُسْنًاۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ شَكُوْرٌ
Itulah (karunia) yang (dengannya) Allah menggembirakan hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak meminta kepadamu suatu imbalan pun atas seruanku, kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan.” Siapa mengerjakan kebaikan, akan Kami tambahkan kebaikan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.
(QS Asy Syura (42):23)
Ayat ini sering ditafsirkan sebagai anjuran untuk mencintai keluarga dekat Nabi Muhammad SAW, termasuk Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain .
Ibnu Abbas mengatakan bahwa ketika ayat ini turun, para sahabat bertanya kepada Nabi, “Siapakah kerabatmu yang engkau wajibkan kami untuk mencintai mereka?” Nabi menjawab, “Ali, Fatimah, dan kedua putranya (Hasan dan Husain).”
NARA SUMBER
@ WIRA TAPAKTUAN 1984
Tidak ada komentar