Keutamaan Sedekah & Kepedulian Terhadap Korban Banjir Bandang

waktu baca 4 menit
Sabtu, 6 Des 2025 14:29 24 Admin KPK

05 Desember 2025 Aku wasiatkan kepada diri saya sendiri dan kepada seluruh jama’ah sekalian agar senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT, taqwa yang sesungguhnya—taqwa yang memancarkan ketaatan dan menjauhkan kita dari maksiat.

Mari senantiasa memperbaiki ibadah, membersihkan hati, dan memperbanyak amal saleh.

Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ۝١٠٢

yâ ayyuhalladzîna âmanuttaqullâha ḫaqqa tuqâtihî wa lâ tamûtunna illâ wa antum muslimûn

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.
( QS Ali Imran [3]: 102

1. Kepedulian Terhadap Musibah Sesama Saudara

Beberapa waktu ini, lsaudara-saudara kita di wilayah Aceh, Sumatera Barat dan Sumatera Utara dilanda musibah banjir yang menyebabkan rumah hanyut, mata pencaharian hilang, bahkan menelan korban jiwa.

Mereka kedinginan, lapar, dan kebingungan akan masa depannya.

Dalam keadaan demikian, Islam tidak mengajarkan kita hanya bersimpati dengan lisan, tetapi berempati dengan tindakan nyata

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه
( رواه البخاري ومسلم)

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Bila kita ingin selamat, ingin sejahtera, ingin hidup penuh keberkahan — maka lakukan juga hal itu kepada saudara kita yang sedang diuji.

2. Sedekah Adalah Bukti Iman dan Kasih Sayang

Sedekah bukan sekadar memberi uang. Sedekah adalah bahasa cinta dan iman.
Islam menempatkan sedekah sebagai salah satu tanda orang bertaqwa.

Allah SWT berfirman:

Al-Baqarah · Ayat 272

۞ لَيْسَ عَلَيْكَ هُدٰىهُمْ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَلِاَنْفُسِكُمْۗ وَمَا تُنْفِقُوْنَ اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ اللّٰهِۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ يُّوَفَّ اِلَيْكُمْ وَاَنْتُمْ لَا تُظْلَمُوْنَ ۝٢٧٢

Bukanlah kewajibanmu (Nabi Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, (manfaatnya) untuk dirimu (sendiri). Kamu (orang-orang mukmin) tidak berinfak, kecuali karena mencari rida Allah. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi (pahala) secara penuh dan kamu tidak akan dizalimi.
( QS Al – Baqarah [2]: 272

Ketika kita mengulurkan tangan kepada sesama, sejatinya kita sedang menolong diri kita sendiri. Sedekah bukan mengurangi harta — bahkan menambah dan membersihkan.

3. Hikmah Sedekah Bagi Kehidupan Dunia dan Akhirat

Rasulullah ﷺ bersabda:

ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ، ﻋﻦ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻﻠّﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠّﻢ ﻗَﺎﻝَ : ﻣَﺎ ﻧَﻘَﺼَﺖْ ﺻَﺪَﻗَﺔٌ ﻣِﻦْ ﻣَﺎﻝٍ، ﻭَﻣَﺎ ﺯﺍﺩَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﺒْﺪﺍً ﺑﻌَﻔْﻮٍ ﺇِﻻَّ ﻋِﺰّﺍً، ﻭَﻣَﺎ ﺗَﻮَﺍﺿَﻊَ ﺃﺣَﺪٌ ﻟﻠﻪِ ﺇِﻻَّ ﺭَﻓَﻌَﻪُ ﺍﻟﻠﻪُ .ﺭﻭﺍﻩ ﻣﺴﻠﻢ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ” Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya kecuali kemuliaan, dan tidaklah seseorang tawadhu’ karena Allah kecuali Dia akan meninggikan derajatnya.”
(HR. Muslim)

Justru Allah akan menggantinya dalam bentuk:

🔹 Rezeki yang dapat datang dari pintu yang tak pernah diduga
🔹 Hati yang lapang, jauh dari gelisah
🔹 Keluarga yang damai dan penuh berkah
🔹 Amal yang terus mengalir meski pemiliknya telah tiada

Bahkan dalam riwayat lain, Nabi bersabda:

«اسْعَوْا فِي الصَّدَقَةِ فَإِنَّ الْبَلَاءَ لَا يَدْخُلُ مُقَدَّمَ الصَّدَقَةِ»

“Bersegeralah bersedekah, karena musibah dan bencana tidak mampu mendahului sedekah.”
( HR. Thabrani)

Maka, sedekah bukan sekadar kepedulian sosial — ia adalah perisai dari bala, benteng dari petaka, dan cahaya dalam kesempitan.

4. Sedekah Menjadi Cahaya Pada Hari Kiamat

Kelak ketika manusia gelisah, matahari dekat di atas kepala, tidak ada tempat berlindung — maka salah satu yang memberi naungan ialah edekah yang pernah kita keluarkan

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ظِلُّ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَدَقَتُهُ

Sesungguhnya sedekah menjadi naungan bagi orang yang bersedekah pada hari kiamat. (HR. Ahmad)

Di dunia sedekah menghilangkan kelaparan saudara kita, di akhirat ia menghilangkan panasnya mahsyar yang mencekam.

5. Ajakan Mengulurkan Bantuan

Mari kita kuatkan kepedulian terhadap korban banjir.

Ringankan tangan, sisihkan harta yang Allah titipkan. Satu bungkus mi, selembar pakaian, seberkas beras, donasi uang — semuanya bernilai di sisi Allah.

Sebuah hadis menyebut:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ. وَاللهُ في عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ

Seorang muslim itu saudara untuk muslim yang lain, jangan dia mendzaliminya, jangan juga menyerahkannya kepada musuh. Barangsiapa yang memenuhi hajat seorang saudaranya, Allah akan penuhi hajatnya. Barangsiapa yang ia melepaskan kesulitan seorang muslim, maka Allah akan melepaskan kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Apa yang kita berikan, tidak hilang. Ia kembali sebagai pahala, sebagai sabda, sebagai penolong di akhirat.

NARA SUMBER : Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

Penyuluh Agama Islam KUA dan Dosen STAI TAPAKTUAN

EDITOR

@ WIRA TAPAKTUAN 1984. KPKTIPIKOR

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA