Kematian Warga Tanimbar di Mimika Tak Terkait “Kesalahan Adat” Pelantikan: Pernyataan Tegas Petrus  Hantam Opini Liar

waktu baca 3 menit
Minggu, 29 Mar 2026 11:18 8 Admin Maluku

Mimika,kpktipikor.id -Duka yang menyelimuti komunitas Tanimbar di Mimika berubah menjadi polemik. Sejumlah kematian warga pasca pelantikan Ketua Umum Ikatan Kerukunan Kepulauan Tanimbar mulai dikaitkan dengan isu “kesalahan prosedur adat”. Narasi ini menyebar cepat, membentuk ketegangan di tengah solidaritas orang basudara, Minggu (29/3)

Namun, suara keras dan tegas datang dari Petrus Livurngorvaan, Pendiri Ormas Keluarga Besar Maluku Tenggara Raya (KBMTR) Nasional, memutus rantai spekulasi tersebut secara frontal.

“Ini Duka, Bukan Ruang Spekulasi

Petrus menegaskan, mengaitkan kematian dengan kesalahan dalam prosesi pelantikan adalah logika yang keliru dan berbahaya.

“Kematian adalah realitas kemanusiaan. Tidak bisa ditarik-tarik menjadi akibat dari kegiatan organisasi. Jangan bangun opini di atas duka. Itu melukai,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi narasi yang berkembang liar tanpa dasar, yang berpotensi merusak kehormatan organisasi dan perasaan keluarga korban.

Fakta Organisasi: Tidak Ada Hubungan Sebab-Akibat

Dalam kerangka organisatoris, Petrus Livurngorvaan menjelaskan dengan lugas bahwa pelantikan merupakan agenda formal kelembagaan yang bertujuan mengesahkan kepemimpinan dan struktur organisasi, serta sama sekali tidak memiliki korelasi dengan peristiwa kematian individu.

“Tidak ada satu pun prinsip organisasi yang menyebut kesalahan prosedur bisa menyebabkan kematian. Itu bukan hanya keliru, tapi menyesatkan,” ujarnya tajam.

Ia mengingatkan bahwa organisasi harus berdiri di atas rasionalitas, aturan, dan tanggung jawab, bukan tafsir emosional yang liar.

Adat Bukan Alat Menuduh

Di sisi lain, Petrus tetap menempatkan adat pada posisi terhormat. Namun ia memberi garis tegas: adat tidak boleh disalahgunakan.

Menurutnya, Adat adalah nilai luhur untuk menjaga keseimbangan hidup, Bukan instrumen untuk mencari kambing hitam dan bukan ruang membangun ketakutan kolektif

“Kalau ada yang merasa ada kekurangan dalam adat, jawab dengan doa dan introspeksi. Bukan dengan menuduh tanpa dasar,” tegasnya.

Pernyataan ini sekaligus meredam kecenderungan sebagian pihak yang mencoba mengaitkan tragedi dengan kesalahan ritual tanpa bukti.

Bahaya Opini Liar: Dari Duka ke Perpecahan

Petrus Livurngorvaan memperingatkan bahwa jika isu ini terus dibiarkan, hal tersebut berpotensi memecah belah komunitas Tanimbar di rantau, menimbulkan konflik internal organisasi, serta menggeser fokus dari empati menjadi saling curiga.

“Jangan biarkan duka berubah jadi bara konflik. Kita satu asal, satu darah. Persatuan harus lebih kuat dari rumor,” tandasnya.

Pesan Tegas untuk Semua Pihak

Ia menyerukan langkah konkret:

Hentikan spekulasi yang tidak berdasar,

Hormati keluarga yang berduka,

Jaga marwah organisasi,

Perkuat persaudaraan di tanah rantau,

Duka Harus Dijawab dengan Akal Sehat dan Hati Nurani.

Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka, tetapi ujian kedewasaan kolektif. Di tengah benturan antara emosi, budaya, dan logika, masyarakat dituntut untuk tidak terseret dalam arus opini yang menyesatkan.

Kematian tidak boleh dipelintir menjadi alat pembenaran, adat tidak boleh dijadikan senjata tuduhan, dan organisasi tidak boleh runtuh oleh spekulasi. Dari Tanimbar untuk Mimika, satu pesan menggema kuat: jaga akal sehat, rawat persaudaraan, dan hormati duka tanpa prasangka.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA