Mimika,kpktipikor.id -Duka yang menyelimuti komunitas Tanimbar di Mimika berubah menjadi polemik. Sejumlah kematian warga pasca pelantikan Ketua Umum Ikatan Kerukunan Kepulauan Tanimbar mulai dikaitkan dengan isu “kesalahan prosedur adat”. Narasi ini menyebar cepat, membentuk ketegangan di tengah solidaritas orang basudara, Minggu (29/3)
Namun, suara keras dan tegas datang dari Petrus Livurngorvaan, Pendiri Ormas Keluarga Besar Maluku Tenggara Raya (KBMTR) Nasional, memutus rantai spekulasi tersebut secara frontal.
“Ini Duka, Bukan Ruang Spekulasi”
Petrus menegaskan, mengaitkan kematian dengan kesalahan dalam prosesi pelantikan adalah logika yang keliru dan berbahaya.
“Kematian adalah realitas kemanusiaan. Tidak bisa ditarik-tarik menjadi akibat dari kegiatan organisasi. Jangan bangun opini di atas duka. Itu melukai,” tegasnya.
Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi narasi yang berkembang liar tanpa dasar, yang berpotensi merusak kehormatan organisasi dan perasaan keluarga korban.
Fakta Organisasi: Tidak Ada Hubungan Sebab-Akibat
Dalam kerangka organisatoris, Petrus Livurngorvaan menjelaskan dengan lugas bahwa pelantikan merupakan agenda formal kelembagaan yang bertujuan mengesahkan kepemimpinan dan struktur organisasi, serta sama sekali tidak memiliki korelasi dengan peristiwa kematian individu.
Ia mengingatkan bahwa organisasi harus berdiri di atas rasionalitas, aturan, dan tanggung jawab, bukan tafsir emosional yang liar.
Adat Bukan Alat Menuduh
Di sisi lain, Petrus tetap menempatkan adat pada posisi terhormat. Namun ia memberi garis tegas: adat tidak boleh disalahgunakan.
Menurutnya, Adat adalah nilai luhur untuk menjaga keseimbangan hidup, Bukan instrumen untuk mencari kambing hitam dan bukan ruang membangun ketakutan kolektif
“Kalau ada yang merasa ada kekurangan dalam adat, jawab dengan doa dan introspeksi. Bukan dengan menuduh tanpa dasar,” tegasnya.
Pernyataan ini sekaligus meredam kecenderungan sebagian pihak yang mencoba mengaitkan tragedi dengan kesalahan ritual tanpa bukti.
Bahaya Opini Liar: Dari Duka ke Perpecahan
Petrus Livurngorvaan memperingatkan bahwa jika isu ini terus dibiarkan, hal tersebut berpotensi memecah belah komunitas Tanimbar di rantau, menimbulkan konflik internal organisasi, serta menggeser fokus dari empati menjadi saling curiga.
“Jangan biarkan duka berubah jadi bara konflik. Kita satu asal, satu darah. Persatuan harus lebih kuat dari rumor,” tandasnya.
Pesan Tegas untuk Semua Pihak
Ia menyerukan langkah konkret:
Hentikan spekulasi yang tidak berdasar,
Hormati keluarga yang berduka,
Jaga marwah organisasi,
Perkuat persaudaraan di tanah rantau,
Duka Harus Dijawab dengan Akal Sehat dan Hati Nurani.
Peristiwa ini bukan sekadar kabar duka, tetapi ujian kedewasaan kolektif. Di tengah benturan antara emosi, budaya, dan logika, masyarakat dituntut untuk tidak terseret dalam arus opini yang menyesatkan.
Kematian tidak boleh dipelintir menjadi alat pembenaran, adat tidak boleh dijadikan senjata tuduhan, dan organisasi tidak boleh runtuh oleh spekulasi. Dari Tanimbar untuk Mimika, satu pesan menggema kuat: jaga akal sehat, rawat persaudaraan, dan hormati duka tanpa prasangka.
Tidak ada komentar