Pemadaman listrik yang melanda Tapaktuan dan sekitarnya sejak Senin hingga Rabu, 29 September–1 Oktober.
Mungkin bagi sebagian orang terasa sebagai gangguan besar dalam aktivitas harian.
Namun, di balik gelapnya malam tanpa cahaya listrik, tersimpan pelajaran berharga dan keberkahan yang jarang kita sadari.
Dalam suasana sunyi dan redup itu, penulis menyempatkan diri untuk menunaikan shalat Maghrib dan Isya berjamaah di
Masjid Istiqomah, dengan imam Ustadz Rusdi Kurnia, M.Pd.
Hal menarik terjadi pada malam Kamis. Biasanya, shalat Maghrib hanya dihadiri sekitar dua hingga tiga shaf jamaah laki-laki. Namun kali ini, jumlah jamaah melonjak drastis menjadi enam shaf, ditambah kehadiran ibu-ibu dan anak-anak yang turut memakmurkan rumah Allah.
Bahkan selepas salat Isya, masih ada jamaah yang berdatangan. Kehadiran mereka bukan hanya untuk menunaikan kewajiban, tetapi juga untuk berkumpul, bersilaturahmi, bahkan sekadar mengisi daya ponsel sambil menunggu listrik kembali menyala.
Menurut penuturan Azwar Rahman, pengurus BKM Masjid Istiqomah, masjid tetap dibuka hingga pukul 01.00 WIB guna melayani jamaah yang datang. Fenomena ini mengajarkan kepada kita bahwa masjid sejatinya bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat kehidupan umat. Di tengah gelapnya malam, masjid hadir sebagai simbol penerangan—bukan hanya penerangan listrik, tetapi penerangan hati, iman, dan kebersamaan.
Yang tak kalah menarik, teras masjid pada malam itu juga berubah menjadi ruang interaksi sosial bagi anak-anak. Mereka bermain bersama, tertawa, dan saling berkenalan tanpa dibatasi oleh layar gawai.
Kehadiran mereka menunjukkan bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah bagi orang dewasa, tetapi juga lingkungan yang ramah anak—tempat mereka belajar bersosialisasi, membangun kepercayaan diri, dan tumbuh dalam suasana religius yang penuh kasih sayang.
Pemadaman listrik yang awalnya dianggap sebagai ujian ternyata justru menjadi momentum kebangkitan spiritual. Gelap yang kita keluhkan menghadirkan cahaya baru dalam hubungan kita dengan Allah dan sesama.
Semoga semangat berjamaah yang tumbuh karena “mati lampu” ini tidak padam seiring nyalanya listrik.
Sebaliknya, biarlah ia terus menyala, menerangi rumah-rumah kita dengan cahaya iman, kebersamaan, dan keberkahan.
Barangkali kita terlalu sibuk mencari cahaya dari kabel dan lampu, padahal Allah memberi kita kesempatan untuk menemukan cahaya sejati—cahaya yang menyatukan hati dalam ibadah, mempererat silaturahmi, dan membangunkan kesadaran bahwa di tengah kegelapan, justru ada terang yang lebih bermakna.
Landasan Al-Qur’an:
Allah Swt. berfirman:
اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
“Allah (adalah) cahaya langit dan bumi…”
(QS. An-Nur [24]: 35)
An-Nur · Ayat 35
Ayat ini mengingatkan kita bahwa sumber cahaya sejati bukanlah lampu listrik atau sinar matahari, melainkan Allah sendiri.
Ketika gelap menyelimuti kehidupan, baik secara lahir maupun batin, mendekat kepada-Nya akan menghadirkan penerangan yang tidak akan pernah padam.
Begitulah, di balik gelapnya malam tanpa listrik, kita justru menemukan sinar yang lebih terang—sinar Iman, Ukhuwah, dan kebersamaan yang tumbuh dari rumah Allah.
Semoga dari peristiwa sederhana ini kita belajar, bahwa terkadang Allah memadamkan satu cahaya untuk menyalakan cahaya yang jauh lebih agung dalam jiwa kita. ✨
Nara Sumber
Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.
Penyuluh Agama Islam KUA TAPAKTUAN
EDITOR
@ WIRA TAPAKTUAN 1984 TIPIKOR
Tidak ada komentar