Pentingnya Kajian Keagamaan di Desa Tapaktuan kpktipikor. id – 03 November 2025
Kajian keagamaan di desa memiliki peranan penting dalam membangun kesadaran spiritual masyarakat.
Di tengah kehidupan masyarakat kecil yang penuh kesederhanaan, hadirnya Majelis Ilmu menjadi sumber pencerahan dan penguat iman.
Kajian agama bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga untuk menumbuhkan semangat menjalani hidup sesuai tuntunan syariat Islam.
Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ”
Artinya:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Peran Wanita dalam Menegakkan Cahaya Islam
Kaum wanita memiliki peranan yang sangat besar dalam menjaga keutuhan keluarga dan membangun masyarakat berakhlak.
Kesibukan mereka di luar maupun di dalam rumah tidak seharusnya menjauhkan diri dari ilmu agama.
Justru di tengah kesibukan itu, mereka membutuhkan pencerahan agar hati tetap tenang dan arah hidup tetap sesuai dengan ajaran Islam.
Wanita adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Maka dari itu, seorang ibu yang berilmu akan melahirkan generasi yang beriman dan berakhlak. Rasulullah ﷺ bersabda:
صحيح مسلم ٣٤٠٨: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ الْحَارِثِ ح و حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى يَعْنِي الْقَطَّانَ كُلُّهُمْ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ ح و حَدَّثَنَا أَبُو الرَّبِيعِ وَأَبُو كَامِلٍ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ ح و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ جَمِيعًا عَنْ أَيُّوبَ ح و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ أَخْبَرَنَا الضَّحَّاكُ يَعْنِي ابْنَ عُثْمَانَ ح و حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أُسَامَةُ كُلُّ هَؤُلَاءِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ مِثْلَ حَدِيثِ اللَّيْثِ عَنْ نَافِعٍ قَالَ أَبُو إِسْحَقَ وَحَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ بِهَذَا مِثْلَ حَدِيثِ اللَّيْثِ عَنْ نَافِعٍ و حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَيَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ كُلُّهُمْ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِمَعْنَى حَدِيثِ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَزَادَ فِي حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنَّهُ قَدْ قَالَ الرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ و حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمِّي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي رَجُلٌ سَمَّاهُ وَعَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ بُكَيْرٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ حَدَّثَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِهَذَا الْمَعْن
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Laits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah menceritakan kepada kami Laits dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau bersabda: “Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia akan bertanggung jawab atas rakyatnya, seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang wanita juga pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggung jawab atas mereka semua, seorang budak adalah pemimpin atas harta tuannya, dan dia bertanggung jawab atas harta tersebut. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan bertanggung jawab atas kepemimpinannya.” Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bisyr. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami ayahku. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami Khalid -yaitu Ibnu Harits. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Yahya -yaitu Al Qatthan- semuanya dari Ubaidullah bin Umar. (dalam jalur lain disebutkan) telah menceritakan kepada kami Abu Ar Rabi’ dan Abu Kamil keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Isma’il semuanya dari Ayyub. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi’ telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudaik telah mengabarkan kepada kami Ad Dlahak -yaitu Ibnu ‘Utsman-. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Harun bin Sa’id Al Aili telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb telah menceritakan kepadaku Usamah semuanya dari Nafi’ dari Ibnu Umar seperti haditsnya Laits dari Nafi’, Abu Ishaq berkata: telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Bisyr telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Ubaidullah dari Nafi’ dari Ibnu Umar seperti haditsnya Laits dari Nafi’.” Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Yahya bin Ayyub dan Qutaibah bin Sa’id dan Ibnu Hujr semuanya dari Isma’il bin Ja’far dari Abdullah bin dinar dari Ibnu Umar dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.” (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab dari Salim bin Abdullah dari ayahnya dia berkata: “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda semakna dengan haditsnya Nafi’ dari Ibnu Umar. Dan dalam haditsnya Zuhri ada tambahan, dia berkata: “Saya mengira bahwa beliau telah bersabda: “Seseorang pemimpin atas harta benda ayahnya, dan dia bertanggung jawab akan kepemimpinannya.” Dan telah menceritakan kepadaku Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb telah mengabarkan kepadaku pamanku Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku seorang laki-laki yang bernama ‘Amru bin Harits dari Bukair dari Busr bin Sa’id dia telah menceritakan dari Abdullah bin Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan makna seperti ini.”
( HR Bukhari No 893 Muslim No 1829)
Sholat: Tiang Agama dan Sumber Ketenangan Jiwa
Dalam kajian kali ini, tema yang diangkat adalah tentang rukun-rukun sholat, agar ibadah kita semakin berkualitas.
Sholat adalah tiang agama. Barang siapa menegakkannya, maka ia menegakkan agamanya.
Sebaliknya, siapa yang meninggalkannya, ia telah meruntuhkan agamanya.
Allah ﷻ berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥
utlu mâ ûḫiya ilaika minal-kitâbi wa aqimish-shalâh, innash-shalâta tan-hâ ‘anil-faḫsyâ’i wal-mungkar, waladzikrullâhi akbar, wallâhu ya‘lamu mâ tashna‘ûn
Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS Al – ‘Ankabut (29): 45)
Ketika seseorang menghadapi kesulitan hidup, maka sholat menjadi jalan untuk menenangkan jiwa.
Allah SWT memerintahkan:
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ ٤٥
wasta‘înû bish-shabri wash-shalâh, wa innahâ lakabîratun illâ ‘alal-khâsyi‘în
Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Sesungguhnya (salat) itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,
(QS Al – Baqarah(2):45)
Perbaiki Sholat, Perbaiki Hidup Kita
Jika kita ingin doa-doa kita dikabulkan, maka perbaikilah terlebih dahulu sholat kita.
Karena sholat yang khusyuk dan benar menjadi penghubung langsung antara hamba dan Tuhannya.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ، فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ “
Dari Abu Huroiroh, dia berkata: Aku telah mendengar Rosululloh shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda: “Sesungguhnya pertama kali amal hamba yang akan dihisab pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka dia beruntung dan sukses, namun jika sholatnya rusak, maka dia gagal dan rugi. Jika ada sesuatu kekurangan dari sholat wajibnya, maka Ar-Robb (Alloh) ‘Azza wa Jalla berfirman: “Perhatikan (wahai para malaikat) apakah hambaKu ini memiliki sholat tathowwu’ (sunah), sehingga kekurangan yang ada pada sholat wajibnya bisa disempurnakan dengannya!”. Kemudian seluruh amalannya akan dihisab seperti itu. (HR. Tirmidzi, no. 413; Nasai, no. 465; Abu Dawud, no. 864; Ibnu Majah, no. 1425; Ahmad, no. 9494
Maka, memperbaiki sholat berarti memperbaiki kehidupan.
Melalui sholat, hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih, dan langkah hidup menjadi terarah.
Belajar Bersama, Menumbuhkan Semangat Iman
Kajian seperti ini bukan hanya bermanfaat bagi jamaah kaum ibu, tetapi juga bagi penulis sendiri.
Setiap kali kita belajar dan mengingat kembali tentang ibadah, maka iman kita diperbarui.
Kajian bukan sekadar pengajian rutin, melainkan wadah saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan.
Allah ﷻ berfirman:
وَذَكِّرْ فَاِنَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ ٥٥
wa dzakkir fa innadz-dzikrâ tanfa‘ul-mu’minîn
Teruslah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.
(QS Adz – Dzariyat (51):55)
Penutup:
Sholat Sebagai Jalan Menuju Pertolongan Allah SWT
Mari kita yakinkan diri untuk terus memperbaiki kualitas dan kuantitas sholat kita.
Karena dengan sholat yang baik, Allah SWT akan memberi jalan keluar dari setiap masalah.
Sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ ٢ وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَالِغُ اَمْرِهٖۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Artinya: “Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Q.S. At-Thalaq [65]: 2-3)
Semoga kajian ini menjadi sarana bagi kita semua, terutama kaum ibu, untuk semakin mencintai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dengan cahaya ilmu dan sholat yang benar, insya Allah SWT kehidupan kita akan penuh berkah dan ketenangan.
Penulis: Muhammad Ali Akbar, S.Pd.I., M.Pd.I.
Disampaikan dalam Kajian Sabtu, 1 November 2025 di bawah binaan KUA Tapaktuan
Majelis Taklim Khairunnisa
EDITOR
@ WIRA TAPAKTUAN 1984 TIPIKOR
Tidak ada komentar