Hidayah yang Menyapa Warga Binaan: Refleksi Pembelajaran Qur’an dan Sholat

waktu baca 5 menit
Sabtu, 22 Nov 2025 12:41 70 Admin KPK

Tapaktuan 22 November 2025

Pembinaan keagamaan di rumah tahanan merupakan upaya memanusiakan manusia dan mengembalikan mereka kepada fitrah.

Kegiatan Tahsinul Qur’an serta praktik gerakan sholat berjamaah bersama warga binaan Rutan Kelas IIB Tapaktuan menjadi bukti bahwa dakwah dan pendidikan agama tidak mengenal batas ruang.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh Muhammad Ali Akbar (KUA Tapaktuan) dan Tgk. Huswandi (KUA Meukek), dan diikuti dengan penuh antusias oleh warga binaan.

1. Cahaya Al-Qur’an di Balik Tembok Rutan

Pembelajaran Tahsinul Qur’an merupakan pintu pertama bagi seseorang untuk memperbaiki hubungan spiritualnya dengan Allah.

Warga binaan mengikuti dengan sungguh-sungguh, memperhatikan makhraj, tajwid, dan bacaan-bacaan dasar yang menjadi fondasi dalam ibadah sholat.

Allah berfirman:

اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًاۗ ۝٤
au zid ‘alaihi wa rattilil-qur’âna tartîlâ

Atau lebih dari (seperdua) itu. Dan Bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan.

(QS. Al-Muzzammil: [73]: 4)

Ayat ini menjadi dasar bahwa membaca Al-Qur’an dengan benar adalah ibadah yang harus diperbaiki secara berkesinambungan.

Di balik tembok rutan, cahaya Al-Qur’an menemukan jalannya memasuki hati mereka, menjadi pengingat bahwa Allah tidak pernah menutup pintu taubat untuk siapapun.

2. Praktik Sholat Berjamaah: Merapikan Gerakan, Merapikan Hati

Selain tahsin, praktik gerakan sholat berjamaah juga menjadi fokus. Pembinaan ini membantu warga binaan meluruskan setiap gerakan sholat berdiri, rukuk, sujud, hingga salam agar sesuai sunnah.

Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ الْحُوَيْرِثِ قَالَ
أَتَيْنَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَفِيقًا فَلَمَّا ظَنَّ أَنَّا قَدْ اشْتَهَيْنَا أَهْلَنَا أَوْ قَدْ اشْتَقْنَا سَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا بَعْدَنَا فَأَخْبَرْنَاهُ قَالَ ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَأَقِيمُوا فِيهِمْ وَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَذَكَرَ أَشْيَاءَ أَحْفَظُهَا أَوْ لَا أَحْفَظُهَا وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي فَإِذَا حَضَرَتْ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

Shahih Bukhari 6705: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah telah menceritakan kepada kami Malik bin Al Huwairits berkata:

“Kami mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketika itu kami masih muda sejajar umurnya, kemudian kami bermukim di sisi beliau selama dua puluh malam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang pribadi yang lembut. Maka ketika beliau memperkirakan bahwa kami sudah rindu dan selera terhadap isteri-isteri kami, beliau bersabda: “Kembalilah kalian untuk menemui isteri-isteri kalian, berdiamlah bersama mereka, ajari dan suruhlah mereka.” dan beliau menyebut beberapa perkara yang sebagian kami ingat dan sebagiannya tidak, “dan shalatlah sebagaimana kalian melihat aku shalat. Jika shalat telah tiba, hendaklah salah seorang di antara kalian melakukan adzan dan yang paling dewasa menjadi imam.”

(HR. Bukhari)

Antusias warga binaan terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan.

Diskusi dua arah membuat suasana belajar semakin hidup.

Ada yang bertanya tentang niat, ada yang meminta contoh tasyahhud, ada pula yang bertanya tentang sunnah-sunnah dalam sholat.

Praktik ini tidak hanya memperbaiki gerakan, tetapi juga menata hati agar lebih dekat kepada Allah SWT.

3. Ketertarikan terhadap Sholat Tasbih: Ilmu yang Jarang Disentuh

Salah satu warga binaan bertanya tentang sholat tasbih, suatu ibadah sunnah yang tidak banyak dilaksanakan oleh masyarakat umum. Pertanyaan ini membuka ruang diskusi baru tentang ragam ibadah sunnah.

Rasulullah SAW bersabda kepada Abbas bin Abdul Muthalib:

“Wahai Abbas… kerjakanlah sholat tasbih. Jika engkau mampu setiap hari, lakukanlah. Jika tidak mampu, maka setiap Jumat sekali, atau setiap bulan sekali…”
(HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah – Hasan Lighairihi)

Penjelasan ini membuat warga binaan memahami bahwa Islam memiliki banyak pintu ibadah, dan seseorang bisa memilih amalan yang paling ia mampu. Diskusi ini menjadi ilmu baru yang sebelumnya belum pernah mereka praktikkan.

4. Dakwah Melampaui Sekat: Menyentuh Hati Warga Binaan

Kegiatan ini membuktikan bahwa penyuluhan agama tidak hanya tentang penyampaian materi, tetapi proses menyentuh hati, menguatkan akhlak, dan membuka jalan perubahan.

Dalam suasana rutan, dakwah justru terasa lebih kuat karena warga binaan berada dalam situasi refleksi diri.

Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289)

Pembelajaran Tahsin dan praktik sholat ini menjadi manfaat nyata bagi warga binaan, membuka ruang bagi mereka untuk memperbaiki diri dan menata masa depan.

5. Harapan untuk Keberlanjutan Pembinaan

Semoga pembelajaran seperti ini terus berkesinambungan. Rutan bukan tempat putus asa, melainkan tempat bangkit. Selama ilmu disampaikan, hati akan terus dibukakan oleh Allah untuk berubah menjadi lebih baik.

Allah berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ ۝١١

lahû mu‘aqqibâtum mim baini yadaihi wa min khalfihî yaḫfadhûnahû min amrillâh, innallâha lâ yughayyiru mâ biqaumin ḫattâ yughayyirû mâ bi’anfusihim, wa idzâ arâdallâhu biqaumin sû’an fa lâ maradda lah, wa mâ lahum min dûnihî miw wâl

“Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah SWT tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah SWT menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.
(QS. Ar-Ra’d. [13]:: 11)

Dengan pembinaan yang konsisten, warga binaan memiliki bekal spiritual yang kuat untuk kembali ke masyarakat kelak.

 

Penutup: Dari Tahsin Menuju Perbaikan Hidup

Tahsinul Qur’an dan praktik sholat berjamaah di Rutan Tapaktuan memberikan pelajaran penting: hidayah bisa hadir di mana saja, bahkan di balik jeruji.

Antusiasme warga binaan menunjukkan bahwa hati yang tulus selalu merindukan Allah.

Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah bagi para penyuluh, pengurus rutan, dan semua pihak yang mendukungnya.

Nara Sumber: Muhammad Ali Akbar, M.Pd.I.

Penyuluh Agama Islam KUA Tapaktuan

EDITOR

@ WIRA TAPAKTUAN 1984 TIPIKOR

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA