Bongkar Kebohongan Publik Proyek Opla TTS: Aktivis Besipae Sebut Laporan Bupati “Dongeng” di Atas Kertas!

waktu baca 2 menit
Selasa, 20 Jan 2026 20:34 28 kabiro Timur Tengah

 

SOE, TIMOR TENGAH SELATAN – Aroma manipulasi data menyengat kuat dari proyek Optimasi Lahan (Opla) di Kecamatan Amanuban Selatan. Aktivis kemanusiaan Besipae, Niko Manao, secara terang-terangan menabuh genderang perang terhadap klaim keberhasilan Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang dinilai jauh panggang dari api.

 

Dalam konferensi pers dadakan di Besipae, Kamis (15/1/2026), Niko membedah jurang lebar antara retorika pejabat dengan realita berlumpur yang dihadapi petani.

 

Niko Manao menyoroti pernyataan Bupati TTS di berbagai lini media yang mengklaim progres fisik Opla telah menyentuh angka fantastis 85 persen. Baginya, angka tersebut bukan sekadar kekeliruan administratif, melainkan dugaan pembohongan publik yang sistematis.

 

“Secara tegas saya katakan, pernyataan Bupati itu fiktif! Jika beliau berani mengklaim 85 persen, saya tantang tunjukkan di mana fisiknya? Berdasarkan pantauan kami di lapangan, progres pengerjaan masih tertatih-tatih di angka 40 hingga 60 persen. Ini adalah laporan ‘Asal Bapak Senang’ yang dipaksakan masuk ke telinga publik,” ujar Niko dengan nada tajam.

 

Ketidakberesan proyek ini bukan sekadar soal angka, melainkan ancaman nyata bagi kedaulatan pangan warga Amanuban Selatan. Niko memaparkan kondisi lapangan yang memprihatinkan, di mana material bangunan dan gundukan tanah masih memblokade akses persawahan warga.

 

 

– Para petani sawah kini berada di ujung tanduk. Alih-alih mendapatkan fasilitas irigasi yang lebih baik, lahan mereka justru tak bisa digarap karena tertimbun sisa material yang tak kunjung dibersihkan.

 

-Keterlambatan ini diprediksi akan memicu gagal tanam massal yang berdampak langsung pada ekonomi rumah tangga petani di TTS.

 

 

“Bupati TTS jangan hanya menjadi ‘raja’ di balik meja yang kenyang dengan laporan di atas kertas. Rakyat di bawah sedang menjerit karena sawah mereka hancur tertutup material proyek yang mangkrak. Ini bukan optimasi lahan, ini penghancuran lahan secara halus!” tegas Niko.

 

Aktivis Besipae ini mendesak agar Bupati segera melakukan inspeksi mendadak (sidak) tanpa pengawalan protokoler yang hanya menyuguhkan “pemandangan indah” yang sudah diatur. Niko menuntut adanya transparansi anggaran dan fisik proyek agar publik tahu ke mana larinya uang negara.

 

“Kami meminta Bupati turun sekarang juga. Lihat sendiri lumpur dan material itu. Jangan biarkan bawahan Anda menyuapi Anda dengan kebohongan sementara rakyat dikorbankan demi mengejar target pencapaian yang semu,” pungkasnya.

 

Hingga berita ini dinaikkan, desakan untuk melakukan audit investigasi terhadap proyek Opla di Amanuban Selatan terus menguat dari berbagai elemen masyarakat sipil, menanti keberanian Bupati untuk membuktikan klaimnya di lapangan.

kabiro Timur Tengah

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA