Purworejo kpktipikor.id – Organisasi Insan Pers Jawa Tengah atau yang lebih dikenal dengan sebutan IPJT, kini telah menjadi salah satu wadah besar bagi para awak media di wilayah Jawa Tengah. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa kelahiran organisasi ini berakar dari keprihatinan mendalam atas kondisi dunia pers di Indonesia, khususnya terkait maraknya kasus intimidasi dan diskriminasi.
Latar Belakang: Kasus Intimidasi dan Keprihatinan Nasional
IPJT lahir bukan tanpa alasan. Berdirinya organisasi ini dipicu oleh banyaknya kasus di mana wartawan, khususnya yang tergolong non-konstituen Dewan Pers, merasa mendapatkan perlakuan yang tidak adil, terancam, dan didiskriminasi dalam menjalankan tugas jurnalistiknya.
Salah satu momentum yang sangat menyentuh hati dan menjadi pengingat beratnya tantangan yang dihadapi wartawan adalah meninggalnya seorang rekan pers, M. Yusup, yang meninggal dunia saat berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kotabaru di Kalimantan selatan pada bulan Juni 2018 dari media Brantas news Kasus ini menjadi bukti nyata betapa rentannya keselamatan dan keadilan bagi insan pers.
Melihat kondisi tersebut, tokoh-tokoh pers nasional seperti Wilson Lalengke dan Heince Mandagi, bersama ribuan wartawan dari seluruh penjuru Indonesia, merasa terpanggil untuk melakukan perubahan.
Musbes Pers Indonesia 2018: Awal Mula Pembentukan
Pada tahun 2018, digelar sebuah acara besar yaitu Musyawarah Besar (Musbes) Pers Indonesia yang di adakan di TMII . Acara ini menjadi titik balik dan wadah untuk menyatukan visi serta misi dalam memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan wartawan.
Dari hasil musyawarah besar tersebut, disepakati untuk membentuk perkumpulan wartawan di setiap provinsi. Di sinilah cikal bakal Insan Pers Jawa Tengah (IPJT) mulai terbentuk.
Lahirnya IPJT di Jawa Tengah
Di Jawa Tengah, pembentukan organisasi ini diprakarsai oleh para tokoh pers yang memiliki komitmen kuat, antara lain:
– Raden Mas Suwondo
– Sigit Tri Hartanto
– Moh Safik
– Ardi Sholehudin
– Serta tokoh lainnya.
Mereka bersama-sama merintis dan mendirikan IPJT di Semarang sebagai pusat koordinatif wilayah. Seiring berjalannya waktu, kepemimpinan organisasi ini mengalami beberapa kali pergantian untuk menjaga kesinambungan program.
– Ketua Umum pertama dipegang oleh RM. Suwondo.
– Kemudian dilanjutkan oleh Dr. Endar Susilo, S.H., M.H.
– Selanjutnya dipimpin oleh Ir. Supriyanto.
– Saat ini, di ketuai oleh Firdaus Andhika dan organisasi sedang dalam tahap konsolidasi menyikapi perkembangan organisasi terkini.
Perkembangan dan Struktur di Kabupaten Cilacap
Hingga saat ini, perjuangan dan eksistensi IPJT telah teruji waktu. Organisasi ini sudah terbentuk dan memiliki kepengurusan di sekitar 28 Kabupaten/Kota se-Jawa Tengah.
Salah satu cabang yang aktif dan solid adalah di Kabupaten Cilacap. Di wilayah ini, IPJT diketuai oleh Sangidun, didukung oleh Sutrisno sebagai Sekretaris dan Komari sebagai Bendahara.
Visi dan Peran IPJT
IPJT hadir sebagai perkumpulan para awak media dari berbagai lini media, khususnya di Jawa Tengah. Organisasi ini berfungsi sebagai:
1. Wadah Silaturahmi: Mempertemukan wartawan dari berbagai media yang berbeda.
2. Perlindungan Hukum dan Kesejahteraan: Memperjuangkan hak-hak anggota agar terhindar dari intimidasi dan diskriminasi.
3. Peningkatan Kompetensi: Mewujudkan wartawan yang profesional, beretika, dan bermartabat.
Dengan sejarah perjuangan yang panjang, IPJT terus berkomitmen menjadi mitra pemerintah dan masyarakat dalam membangun daerah, serta menjaga kebebasan pers yang bertanggung jawab.
Tim red Bambang
Tidak ada komentar