OLEH:ANDI fahri Makassau Ketua Departemen Kaderisasi PSI SulSel.
Makassar,KPK Tipikor,id-Rakernas ”Partai Solidaritas Indonesia”, yang diselenggarakan di Makassar bukan sekadar agenda organisasi rutin, melainkan momentum ideologis dan strategis untuk menegaskan kembali jati diri PSI sebagai rumah bersama politik terbuka rumah bagi gagasan, kerja nyata, dan keberanian moral dalam memperjuangkan Indonesia yang adil, inklusif, dan berkemajuan.
Makassar, sebagai simpul peradaban maritim Nusantara dan pusat dinamika sosial-politik Indonesia Timur, menghadirkan simbol kuat politik tidak boleh berjarak dari rakyat, dan kekuasaan harus berakar pada kerja nyata, bukan sekadar retorika.
Politik Terbuka sebagai Etos dan Sistem Politik terbuka bukan jargon. Ia adalah etos dan sistem yang menuntut transparansi pengambilan keputusan, partisipasi warga, serta akuntabilitas kader di setiap jenjang. Dalam kerangka ini, PSI memosisikan diri sebagai partai yang menolak politik tertutup, transaksional, dan elitis sebaliknya, PSI membangun ruang politik yang rasional, etis, dan berbasis data.
Politik terbuka berarti :Akses publik terhadap proses politik, bukan hanya hasilnya. Rekrutmen kader yang meritokratis, berbasis integritas dan kapasitas.
Kebijakan yang dapat diuji publik, bukan disakralkan oleh kekuasaan.Inilah fondasi demokrasi modern yang menempatkan warga sebagai subjek, bukan objek politik.
Kaderisasi : Jantung Perubahan Sebagai Ketua Departemen Kaderisasi DPW PSI Sulawesi Selatan, saya menegaskan bahwa kaderisasi adalah jantung perubahan PSI. Tanpa kader yang ideologis, berpengetahuan, dan berakar di masyarakat, politik terbuka hanya akan menjadi slogan kosong.
Kader PSI harus dibentuk sebagai : Aktor sosial, bukan sekadar aktivis elektoral.Problem solver, bukan pengulang narasi populis.Pemimpin etis, yang menolak intoleransi, dan ketidakadilan.
Kaderisasi PSI ke depan harus menekankan trilogi kader integritas moral, kapasitas intelektual, dan keberpihakan sosial. Di Sulawesi Selatan dengan tradisi nilai siri’ dan pesse kader PSI dituntut menjembatani nilai lokal dengan tantangan nasional secara cerdas dan kontekstual.
Kerja Nyata sebagai Legitimasi Politik Di tengah krisis kepercayaan publik terhadap partai politik, kerja nyata adalah satu-satunya legitimasi yang sah. PSI tidak boleh terjebak pada politik simbolikb ia harus hadir dalam kerja konkret advokasi kebijakan publik, pendampingan warga, pengawasan anggaran, dan keberanian bersuara untuk yang lemah.
Kerja nyata berarti politik yang bisa diukur dampaknya bukan hanya viral di media sosial, tetapi terasa di dapur rakyat, di sekolah, di puskesmas, dan di ruang kerja anak muda.
Rakernas di Makassar menyampaikan pesan strategis masa depan Indonesia tidak ditentukan dari satu pusat, melainkan dari banyak simpul. Indonesia Timur bukan pinggiran, melainkan halaman depan republik. PSI harus menjadi partai yang membaca Indonesia secara utuh majemuk, setara, dan saling terhubung.
PSI adalah rumah bersama bukan karena keseragaman, tetapi karena kesediaan untuk berbeda secara dewasa dan bekerja bersama secara nyata. Politik terbuka adalah jalan, kaderisasi adalah mesin, dan kerja nyata adalah tujuan.
Dari Makassar, kita meneguhkan tekad PSI hadir bukan untuk sekadar ikut pemilu, tetapi untuk ikut membangun Indonesia.
Laporan:Rusdi RM
Tidak ada komentar