Gayo Lues, kpktipikor.id-Di ujung timur kabupaten berhawa sejuk itu, di mana pegunungan berdiri gagah dan akses pendidikan masih terbatas, berdiri sosok kepala sekolah yang bekerja bukan demi penghargaan, melainkan karena panggilan nurani. Muhtarudin, S.Pd.I., M.Pd., Kepala SMAN 1 Putri Betung, menjadi salah satu wajah dedikasi pendidikan di pelosok Aceh. Ia baru saja dinobatkan sebagai Kepala SMA Dedikatif Terbaik II Provinsi Aceh Tahun 2025, sebuah penghargaan bergengsi dalam ajang Apresiasi Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Tingkat Provinsi Aceh yang digelar Selasa, 4 November 2025, di Hotel The Pade, Banda Aceh.
Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Langsa, Salamuddin, S.Pd.I., kepada sosok yang dikenal rendah hati dan pekerja keras ini. Namun bagi Muhtarudin, penghargaan hanyalah bonus dari kerja panjang yang digerakkan oleh satu niat.Menjalankan tugas dengan sepenuh hati, melayani dengan ikhlas, mengharap ridho Ilahi.
Dalam karya praktik baiknya yang bertajuk.Menyalakan Harapan di Tengah Keterbatasan.Strategi Sekolah dalam Penjemputan Anak Rentan Putus Sekolah”, Muhtarudin menunjukkan bahwa sekolah bukan sekadar ruang belajar, melainkan tempat kembali bagi anak-anak yang hampir kehilangan arah.
Bersama guru dan masyarakat sekitar, ia membangun strategi jemput bola. Dari dusun ke dusun, mereka mendatangi rumah-rumah siswa yang mulai enggan bersekolah karena jarak, ekonomi, atau rasa minder. Dengan pendekatan hati dan dialog sederhana, Muhtarudin mengubah keraguan menjadi semangat baru.Kalau sekolah tidak datang kepada mereka, siapa lagi yang akan menyalakan harapan?” katanya suatu kali dalam forum kecil di sekolahnya.
SMA Negeri 1 Putri Betung bukan sekolah dengan fasilitas lengkap. Namun di tangan Muhtarudin, keterbatasan justru menjadi bahan bakar perubahan. Ia menggerakkan gotong royong untuk memperbaiki ruang belajar, memotivasi guru agar terus berinovasi, dan menghidupkan nilai keikhlasan di setiap langkah pengabdian.Hasilnya, perlahan tapi pasti, sekolah di ujung Gayo Lues itu menjadi contoh bagaimana semangat bisa menembus batas geografis dan ekonomi.
Bagi masyarakat Putri Betung, Muhtarudin bukan hanya kepala sekolah. Ia adalah pembimbing, penjemput masa depan, dan pengingat bahwa pendidikan adalah cahaya yang tak boleh padam. Dedikasinya menggambarkan wajah sejati seorang pendidik Aceh,bekerja dalam diam, namun hasilnya menggema jauh.
Penghargaan yang diraihnya di tingkat provinsi menjadi bukti bahwa pengabdian dari pelosok pun bisa menyala terang. Di tengah keterbatasan, Muhtarudin memilih untuk tidak menyerah. Ia justru menyalakan harapan,bagi siswanya, bagi sekolahnya, dan bagi masa depan pendidikan di Gayo Lues.
Menjalankan tugas dengan sepenuh hati, melayani dengan ikhlas, mengharap ridho Ilahi.Kalimat itu bukan sekadar semboyan, tapi napas perjuangan seorang guru yang meyakini,selama niatnya tulus, setiap langkah kecil akan selalu berarti besar bagi dunia pendidikan.
Editor : Dir
Tidak ada komentar