Saumlaki,kpktipikor.id -Seruan pertobatan dan pembaruan moral menggema kuat dalam pembukaan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dan Seminar bertajuk “Tanimbar Kembali kepada Tuhan” yang digelar di salah satu hotel di Kota Saumlaki, Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Kamis (26/2/2026) pukul 18.00 WIT.
Kegiatan ini menghadirkan unsur pemerintah daerah, tokoh gereja, dan jemaat lintas denominasi dalam satu ruang refleksi bersama atas kondisi sosial yang kian menuntut penguatan integritas dan karakter.
Acara dibuka secara simbolis melalui prosesi pemukulan tifa oleh Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, pengkhotbah, Ketua Panitia, Kepala Seksi Urusan Agama Kristen Protestan Kementerian Agama Kabupaten Kepulauan Tanimbar, serta tokoh pemerkasa Dani Batmanlussy.
Simbol budaya itu menandai dimulainya gerakan rohani yang diharapkan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjelma menjadi kesadaran kolektif.
Ketua Panitia, Pdt. Yusak Weriratan, S.Th., M.A., M.Pd.K, menandaskan, bahwa kegiatan ini merupakan panggilan moral bagi masyarakat Tanimbar untuk berbenah di tengah dinamika pembangunan yang terus bergerak.
Lanjut, Ia menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Daerah, seraya menekankan pentingnya sinergi gereja dan pemerintah dalam membangun fondasi masyarakat yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga kuat secara spiritual.
“Kami percaya Tuhan melawat dan memulihkan setiap pribadi sesuai dengan pergumulan, sakit penyakit, dan persoalan hidup yang mereka alami,” ujar Weriratan di hadapan jemaat.
Dalam keterangan pers terpisah, ia menegaskan bahwa tema “Tanimbar Kembali kepada Tuhan” bukan sekadar slogan religius, melainkan respons atas realitas sosial yang menuntut pembaruan nilai, integritas, dan tanggung jawab publik.
Menurutnya, pembangunan tanpa fondasi moral berisiko melahirkan krisis yang lebih dalam, konflik sosial, lunturnya etika, dan melemahnya kepercayaan antarwarga.
“Dalam konteks pembangunan daerah, kita tidak boleh hanya berbicara tentang pertumbuhan fisik. Karakter dan moralitas adalah fondasi utama. Tanpa itu, kemajuan bisa kehilangan arah,” ketusnya.
KKR dan seminar ini dirancang bukan hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai forum pembinaan iman dan penguatan karakter. Materi yang disampaikan para pelayan firman menyoroti pentingnya pertobatan pribadi, rekonsiliasi sosial, serta komitmen kolektif menjaga harmoni di tengah keberagaman masyarakat Tanimbar.
Panitia menyatakan, rangkaian kegiatan akan berlanjut pada Jumat (27/2/2026), dengan harapan pesan spiritual yang disampaikan tidak berhenti di ruang pertemuan, tetapi menjangkau kehidupan nyata masyarakat – keluarga, birokrasi dan ruang publik.
Terlepas dari itu, di tengah kompleksitas tantangan zaman, dari tekanan sosial hingga dinamika pembangunan daerah, seruan “Tanimbar Kembali kepada Tuhan” menjadi lebih dari sekadar tema keagamaan. Ia adalah alarm moral. Sebuah pengingat keras bahwa masa depan Kabupaten Kepulauan Tanimbar – Negeri Duan Lolat – tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan proyek, tetapi oleh kualitas hati dan integritas manusianya.
Sebab sejarah membuktikan, daerah yang kuat bukan hanya yang membangun gedung tinggi, tetapi yang menegakkan nilai. Dan ketika moral menjadi fondasi, harapan tidak lagi menjadi wacana – ia berubah menjadi arah.
Tidak ada komentar